Selong (Suara NTB) – Sekolah Rakyat Menengah Atas (SrMA) di Kabulkan Lombok Timur (Lotim) sudah mulai digelar. Yakni secara serentak pada Senin, 14 Juli 2025. Sekolah rakyat yang menjadi salah satu program unggulan presiden Prabowo di Lotim yang bertempat di bekas gedung Akademi Keperawatan (Akper) Sakra akan terapkan sistem pesantren. Siswa akan diasramakan. SRMA 38 ini mengawo proses pendidikan dengan melakukan pemetaan talenta para siswa.
Kepala SRMA 38 Lotim, Ahmad Afandi sat dikonfirmasi Kamis, 17 Juli 2025 menjelaskan, proses awal mulai pembelajaran ini serentak secara nasional. Siswa juga diberikan masa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). “Hanya sekali para siswa datang pada hari Senin lalu, setelah itu kita persilakan pulang dan belajar sementara dari rumah karena gedung belajar masih ada yang diperbaiki,” ungkapnya.
Rencana, Agustus ini rampung renovasi beberapa fasilitas gedung bekas Akper ini rusak karena lama tidak ditempati.
Afandi menyebutkan, sebanyak 125 siswa yang terbagi dalam lima rombongan belajar (rombel) berasal dari keluarga miskin ekstrem (desil 1,2,3).
Soal pemetaan talenta siswa sambungnya sangat penting dilakukan guna mengintifikasi potensi bidang dan minat. Dari minat inilah nantinya bsja kemudian lebih terarah pengembangannya. “Seperti kuliner, teknik, atau kewirausahaan. Hasilnya akan jadi dasar pembinaan ekstrakurikuler,” ujarnya.
Afandi menegaskan, soal materi pembelajaran sendiri mengikuti kurikulum reguler. Namun, setelah pemetaan talenta, pengembangan bakat akan diintensifkan melalui kegiatan ekstra.
Para siswa akan menempuh pendidikan tiga tahun dengan sistem asrama yang mengadopsi model pondok pesantren, sesuai karakter daerah.
Adapun Perekrutan siswa dilakukan oleh Pendamping Keluarga Harapan (PKH) dengan jangkauan 21 kecamatan di Lotim.
Mengenai tenaga pengajar semua sudah disiapkan. Terdapat 14 guru yang direkrut Kementerian Pendidikan dari tenaga Dinas Sosial, SRMA 38 Lotim siap mengawali operasional penuh.
 Integrasi pemetaan talenta dan model pesantren diharapkan menjadi terobosan untuk memberdayakan siswa dari latar belakang ekonomi rentan. “Karena kita mayoritas penduduknya muslim, jadi kita akan coba terapkan ala pesantren itu,” demikian katanya
Kepala Dinas Sosial Lotim, H Suroto, menyatakan ada 162 pendaftar, tetapi kuota dibatasi 125 siswa. Seleksi ketat berdasarkan tingkat kemiskinan, seperti kondisi rumah dan ekonomi keluarga. Prioritas diberikan kepada desil 1.
Lotim juga mendapat program Sekolah Rakyat jenjang SD yang rencananya dibangun di Panti Sosial Kecamatan Lenek. Namun, Suroto mengaku kesulitan merekrut siswa karena anak-anak dari keluarga miskin telah terdaftar di sekolah umum gratis. Rencananya, perekrutan dilakukan dengan menyasar anak putus sekolah. (rus)


