Mataram (Suara NTB) – Di balik pesona wisata Gili Trawangan, Meno, Air (Tramena) fasilitas kesehatan yang ada di kawasan ini masih sangat minim. Bahkan, di Gili Trawangan hanya ada puskesmas pembantu (pustu) yang tidak dilengkapi dengan dokter.
Ketua Asosiasi Hotel Gili (AHG), Lalu Kusnawan mengatakan, Gili Tramena masih menjadi magnet utama bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berwisata ke NTB. Selain keindahan alamnya, kawasan ini juga menjadi ikon dari konsep pariwisata berkelanjutan (sustainability tourism) yang terus digaungkan oleh pemerintah.
“Ini tanggung jawab semua stakeholder, tidak hanya pelaku industri pariwisata saja. Masalah seperti regulasi, air bersih, hingga pengelolaan sampah juga perlu perhatian. Tapi yang saya tekankan dari dulu adalah soal fasilitas kesehatan. Ini penting sekali,” ujarnya, Selasa, 22 Juli 2025.
Ia menegaskan pentingnya pendekatan preventif dalam menghadapi potensi masalah kesehatan dan keselamatan wisatawan, apalagi akhir-akhir ini NTB sedang disoroti pasca meninggalnya WNA Brasil, Juliana Marins.
“Jangan sampai kejadian dulu baru kita sibuk. Banyak yang harus kita benahi, termasuk soal keberadaan fasilitas kesehatan di Gili,” tambahnya.
Hingga saat ini, di Gili Trawangan hanya tersedia puskesmas pembantu (pustu) yang bahkan tidak memiliki tenaga dokter. Kondisi ini dinilai sangat memprihatinkan, mengingat Gili Trawangan merupakan destinasi bertaraf internasional yang setiap tahun dikunjungi ribuan wisatawan dari seluruh dunia.
Untuk itu, ia berharap Pemerintah Daerah (Pemda) memiliki langkah konkret, termasuk rencana kontinjensi (contingency plan) untuk meningkatkan layanan kesehatan. “Tahun pertama bisa dimulai dengan pembangunan fasilitas dari international hospital. Jangan tunggu nanti,” lanjutnya.
Tak hanya itu, ia juga mendorong Pemda NTB untuk membentuk posko terpadu selama musim kunjungan tinggi atau high season, seperti pada bulan Mei hingga Oktober. Posko ini bisa melibatkan unsur TNI AL, Kepolisian, Basarnas, dan stakeholder lainnya guna mengantisipasi kecelakaan maupun bencana alam.
“Ini kebutuhan vital, tidak hanya bagi masyarakat lokal dan pelaku usaha, tapi juga untuk menjamin keselamatan wisatawan,” tegasnya.
Saat ini, Gili Tramena sedang dalam masa high session, kunjungan wisatawan bisa mencapai 3000-3.500 wisatawan per harinya. Kunjungan ke tiga wisata bahari di NTB ini didominasi oleh wisatawan asing mencapai 99 persen.
Selain itu, pemerintah juga perlu berbenah terkait masalah air bersih yang ada di kawasan ini, khususnya Gili Meno. Sebab, sejak setahun lalu masyarakat sangat terbatas dalam mengakses layanan air bersih.
“Bupati KLU sudah menyiapkan action plan untuk menangani krisis air di Gili Meno. Saya dari Asosiasi tetap mengedepankan hukum. Hanya bagaimana suplai air itu menjadi kebutuhan dasar, pokok baik masyarakat, industri harus terus berjalan,” pungkasnya. (era)



