Giri Menang (Suara NTB) – Sebanyak 66 Sekolah Dasar (SD) di Lombok Barat (Lobar) sepi peminat, masing-masing sekolah tercatat menerima kurang dari 20 siswa yang mendaftarkan diri pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) pada tahun ajaran 2025/2026.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Lombok Barat, M. Hendrayadi menyebut dari 66 sekolah itu, bahkan salah satu SD di Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Lobar hanya menerima tiga murid yang mendaftar. “Bahkan ada siswanya hanya tiga orang di salah satu SD di Desa Buwun Mas itu,” katanya, kemarin
Menurutnya, Kecamatan Sekotong menduduki peringkat pertama dengan total 14 SD yang sepi peminat. Kurangnya komunitas anak-anak di wilayah tersebut menjadi salah satu penyebab minimnya siswa. Keberadaan pondok pesantren yang kian menjamur, juga menjadi penyebab sepinya peminat sekolah negeri, sehingga banyak orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sana.
Beberapa sekolah tersebut juga lokasinya tidak strategis dan jarang dilewati, sehingga kalah populer dengan sekolah yang baru berdiri dengan lokasi lebih strategis. “Bukan sulit dijangkau, Memang akses masyarakat tidak bergerak ke situ,” ucap Hendra.
Di beberapa SD, sambung Hendra, mengalami kondisi yang sama tiap tahunnya. Sehingga banyak orang tua enggan menyekolahkan anaknya ke sana yang kemudian menjadi kebiasaan.
Bahkan, pihaknya mengaku pernah mengusulkan solusi dengan menunjuk kepala sekolah, yang berdomisili di daerah tempat SD sepi peminat tersebut. Malah beberapa kepala sekolah menolak bertugas di sana karena dirasa sekolahnya terlalu minim siswa.
“Beberapa waktu lalu pernah saya tantang, orang yang tidak ingin anaknya sekolah di sana saya carikan kepala sekolah yang tinggal di sana. Lebih baik saya tidak jadi kepala sekolah daripada di sana. Itu malah kata kepseknya,” ungkapnya.
Pihaknya akan mencarikan solusi terkait 66 sekolah yang sepi peminat tersebut, sehingga kondisinya tidak berulang setiap tahun. “Untuk sementara waktu konsepnya sedang dibahas,” ujarnya.
Untuk sementara pihaknya telah menyiapkan konsep penanganan terhadap masing-masing sekolah yang sepi peminat. Salah satunya, pihaknya berencana menggabungkan sekolah. “Ini baru konsep, perlu kita kaji mendalam terkait berbagai aspek,”imbuhnya.
Di samping upaya lain, melalui sistem zonasi berbasis dusun, desa dan kecamatan agar tetap masuk ke sekolah setempat. (her)

