Istanbul – Pasukan Thailand dan Kamboja pada Minggu terus saling menembakkan peluru artileri di sepanjang perbatasan yang disengketakan, meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak gencatan senjata antara kedua negara Asia Tenggara tersebut.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata, mengatakan pasukan Thailand terus menyerbu wilayah Kamboja dan menuding pihak Thailand menembakkan peluru artileri dan roket ke wilayah Kamboja, menurut harian Khmer Times.
Secara terpisah, Juru Bicara Angkatan Darat Thailand, Richa Suksuvanon, mengatakan pasukan Kamboja melepaskan tembakan artileri ke berbagai wilayah yang menyebabkan kerusakan pada infrastruktur, sebagaimana dilaporkan oleh Thai PBS.
Suksuvanon menambahkan bahwa pihak Thailand hanya akan menghentikan tembakan jika Kamboja bersedia datang untuk melakukan negosiasi, yang mengindikasikan bahwa pertempuran antara kedua negara bertetangga di Asia Tenggara itu telah berlangsung hingga hari keempat.
Tidak ada korban jiwa baru yang dilaporkan pada Minggu karena jumlah korban tewas tetap di angka 33, dengan ribuan warga dari kedua sisi perbatasan telah dievakuasi.
Pada Sabtu,26 Juli 2025, Trump berbicara dengan perdana menteri Kamboja dan Thailand, mendesak agar mereka memulai negosiasi gencatan senjata, yang menurutnya telah disetujui oleh kedua pihak.
Thailand melaporkan 20 kematian, termasuk enam tentara, sementara Kamboja mengatakan 13 warganya, termasuk lima tentara, tewas sejak eskalasi terbaru dimulai pada Kamis.
Kedua negara bertetangga di Asia Tenggara tersebut terlibat sengketa perbatasan di wilayah Provinsi Preah Vihear, Kamboja, dan Provinsi Ubon Ratchathani, Thailand, dengan ketegangan yang kembali meningkat sejak 28 Mei, saat seorang tentara Kamboja tewas.
Tak Ada Korban WNI
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban bentrokan bersenjata antara militer Kamboja dan Thailand.
Menurut Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Judha Nugraha, kesimpulan tersebut didapatkan berdasarkan pengamatan Kemlu bersama Kedutaan Besar RI (KBRI) Phnom Penh, Kamboja, dan KBRI Bangkok, Thailand.
“Berdasarkan pemantauan dan komunikasi dengan berbagai pihak, tidak terdapat informasi adanya WNI yang menjadi korban konflik bersenjata tersebut,” kata Judha dalam pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu,27 Juli 2025.
Dia memastikan bahwa KBRI di kedua kota itu telah mengeluarkan imbauan keamanan kepada para WNI.
Mereka diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, menghindari perjalanan ke wilayah konflik, dan terus memonitor situasi keamanan dari otoritas atau media setempat, kata dia.
Para WNI juga diimbau untuk segera menghubungi perwakilan RI setempat jika menghadapi situasi darurat di Kamboja atau Thailand, kata Judha.
KBRI Phnom Penh bisa dihubungi di nomor telepon +855-12-813-282 dan KBRI Bangkok di nomor +66-92-903-1103.
Ketegangan Thailand-Kamboja telah meningkat sejak Kamis, yang dipicu oleh sengketa lama atas Candi Preah Vihear, situs warisan dunia UNESCO dari abad ke-11.
Setelah berminggu-minggu menghadapi ketegangan akibat insiden ranjau darat yang disusul aksi saling usir diplomat, bentrokan bersenjata pecah di sekitar perbatasan. Artileri berat dan roket pun ditembakkan di dekat kawasan candi itu.
Dalam pernyataan sebelumnya, Kemlu RI meyakini bahwa kedua negara dapat menyelesaikan ketegangan dengan cara-cara damai yang sejalan dengan “prinsip-prinsip yang tercermin dalam Piagam ASEAN dan Traktat Persahabatan dan Kerja Sama.” (ant)



