spot_img
Selasa, Februari 17, 2026
spot_img
BerandaNTBKOTA MATARAMKhawatir Sepi Pengunjung

Khawatir Sepi Pengunjung

SEJUMLAH pengunjung kawasan wisata Kota Tua Ampenan, Kota Mataram,  mengeluhkan praktik para pedagang yang tidak mencantumkan harga pada daftar menu makanan dan minuman yang dijual. Anggota DPRD yang juga dari daerah pemilihan Ampenan, Nyayu Ernawati, S.Sos., sudah menympaikan hal ini sedari awal kepada Dinas Pariwisata Kota Mataram.

Menurutnya, ketidaktertiban para pedagang dalam mencantumkan harga menjadi penyebab utama keluhan masyarakat. “Banyak sekali masukan kepada kita bahwa setiap masyarakat yang ke Pantai Ampenan itu tidak ada harganya. Ada menunya, tapi tidak ada harganya,” ujarnya.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan kawasan wisata Pantai Loang Baloq yang dinilai lebih tertib dan transparan. “Di Loang Baloq saya belanja, semua ada harganya. Mie telur Rp15.000, sosis Rp10.000, air mineral pun jelas. Jadi masyarakat merasa nyaman,” jelasnya.

Kurangnya transparansi harga di Pantai Ampenan disebut-sebut membuat banyak pengunjung merasa dirugikan, bahkan ada yang mengaku merasa “terjebak”. “Kalau sudah makan, kan nggak bisa protes lagi. Kasihan nanti pedagangnya sendiri, masyarakat jadi enggan datang kembali,” lanjutnya.

Sekretaris Komisi IV ini menyatakan telah beberapa kali meminta Dinas Pariwisata untuk melakukan penertiban, namun belum ada langkah konkret yang dirasakan di lapangan. “Saya sudah sampaikan ke Dinas Pariwisata. Mereka bilang akan segera ditertibkan, tapi sampai sekarang belum ada perubahan,” katanya.

Revitalisasi kawasan Kota Tua Ampenan disebut sebagai langkah positif, namun keberhasilan program itu dinilai bisa terancam jika persoalan dasar seperti transparansi harga tidak segera ditangani. “Sayang kalau sudah sebagus ini terus nanti sepi lagi seperti dulu. Masyarakat akhirnya lari belanja ke tempat lain,” tegasnya.

Ia juga menyinggung adanya kesan bahwa para pedagang “memanfaatkan momen” seperti festival atau hari libur untuk menaikkan harga tanpa pengawasan. “Kesannya pedagang kok dimumpung. Mumpung ada festival, harganya dikatrol,” katanya.

Menutup pernyataannya,  Nyayu menekankan bahwa yang paling dirugikan dalam situasi ini justru para pedagang sendiri jika pengunjung enggan kembali. “Yang kita kasihanin itu pedagangnya. Kalau harga dianggap tidak wajar dan pengunjung kecewa, siapa yang mau datang lagi ke sana?,” kata politisi PDI Perjuangan ini. (fit)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO