spot_img
Senin, Februari 23, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK BARATDinilai Tidak Efektif Tangani Stunting, Bupati Lobar Batalkan Pembelian Telur Senilai Rp1...

Dinilai Tidak Efektif Tangani Stunting, Bupati Lobar Batalkan Pembelian Telur Senilai Rp1 Miliar

Giri Menang (Suara NTB) – Bupati Lombok Barat (Lobar) H. Lalu Ahmad Zaini membatalkan pembelian telur senilai Rp1 miliar untuk penanganan stunting. Anggaran itu dialihkan untuk pembelian susu. Sebab dari hasil dokter ahli, bahwa penanganan stunting itu yang efektif dilakukan melalui pemberian susu selama tiga bulan secara terus menerus.

Menurutnya, stunting menjadi pekerjaan rumah, baik tingkat nasional, regional dan daerah, sehingga pihaknya fokus dalam menangani stunting ini. Dalam penanganan stunting ini, pihak mengubah mindset dan pendekatan dari sebelumnya. “Kalau sbelumnya pendekatan adalah diberikan telur, sehingga kemarin pengadaan telur untuk menangani stunting ini langsung saya batalkan. Karena saya menilai tidak efektif,’’ ungkapnya, kemarin.

Anggaran untuk penanganan stunting mencapai Rp3 miliar. Awalnya anggaran itu dialokasikan untuk pembelian susu dan telur. Namun anggaran untuk pembelian telur dialihkan karena dinilai tidak efektif. Hal itu berdasarkan hasil kajian, melibatkan ahlinya. Ia memanggil dan mengumpulkan semua dokter spesialis anak untuk mengkaji langkah dan cara apa yang dilakukan dalam penanganan stunting.

Untuk itu, muncul konsep dari dokter anak ini, untuk penanganan stunting adalah dengan memberikan susu selama tiga bulan berturut-turut. “Itu yang efektif, itu rekomendasi dari dokter spesialis anak,” ujarnya.

Pihak dokter spesialis anak menilai dalam penanganan stunting pada anak, tidak perlu terlalu banyak diberikan protein, melainkan susu, sehingga pihaknya pun melakukan langkah itu sesuai dengan rekomendasi dari dokter spesialis anak.

Sebab bicara penanganan stunting, yang paling berhak dan kompetens membuat resep tentu yang ahlinya yakni dokter spesialis anak. Dalam hal ini, pihaknya mengaku tidak masalah, kendati anggaran stunting ini akan bertambah dari Rp3 miliar, karena anggarannya dua kali lipat dari telur ke susu. “Tapi bagi saya, walaupun dua kali lipat asalkan selesai penanganan stunting itu jauh lebih baik,”  imbuhnya. Sehingga

Sementara itu, Wakil Rektor Wakil Rektor I Universitas Bima Internasional MFH Mataram (Unbim) Apt. Ajeng Dian Pertiwi, M.Farm dan Civitas Unbim menyampaikan pihaknya kerja sama dengan Bappeda Lobar dalam project Kota Sehat. Untuk langkah awal, pihaknya intervensi stunting sebagai salah satu indikator kota sehat. Pihaknya melakukan intervensi selama enam bulan ke depan bersama Bappeda. “Kami fokus pada tiga wilayah stunting terbesar di Lobar yakni Gunungsari, Sekotong dan Narmada,” imbuhnya.

Pihaknya juga kerja sama dengan dokter, tenaga ahli kesehatan, ahli gizi dan akademisi perguruan tinggi dalam melakukan pendampingan serta penyuluhan terkait mengolah bahan dapur menjadi jamu tradisional yang bisa digunakan untuk ajak meningkatkan napsu anak. Sebagai langkah pendahuluan, pihaknya memetakan dulu sasaran-sasaran.  (her)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO