Gaza (Suarantb.com) – Sindikat Jurnalis Palestina (Palestinian Journalists Syndicate/PJS) menyatakan bahwa tentara penjajah Israel telah menewaskan 232 jurnalis, baik laki-laki maupun perempuan, dan pekerja media sejak awal agresi Zionis di Gaza pada 7 Oktober 2023.
Korban terbaru yakni jurnalis foto Ibrahim Hajjaj, yang gugur dalam serangan udara Israel di lingkungan Al-Daraj di Kota Gaza saat mendokumentasikan agresi yang sedang berlangsung.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Rabu, PJS berduka atas kematian Hajjaj. Pernyataan itu juga menekankan bahwa pesan Hajjaj masih akan tetap hidup, meskipun ada upaya untuk membungkam dan meneror pers.
Organisasi profesional non-pemerintah itu mengutuk keras penargetan Hajjaj dan jurnalis yang lain, menyebutnya sebagai kebijakan eksekusi lapangan yang disengaja dan sistematis yang bertujuan untuk membungkam suara kebenaran Palestina serta mengintimidasi para profesional media.
PJS menganggap zionis Israel bertanggung jawab penuh atas kejahatan ini. Selain itu, pihaknya juga menyeru komunitas internasional untuk segera mengambil tindakan guna melindungi para jurnalis dan meminta pertanggungjawaban penjajah atas kejahatan mereka.
Pengakuan Palestina
Menyusul langkah Prancis dan Inggris, Kanada juga akan mengumumkan pengakuan Negara Palestina pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) September mendatang, kata Perdana Menteri Kanada Mark Carney.
“Kanada bermaksud mengakui Negara Palestina pada Sidang Majelis Umum ke-80 PBB yang akan dilaksanakan pada September 2025,” kata Carney dalam sebuah konferensi pers, Rabu, 30 Juli 2025.
Menurut Carney, keputusan tersebut adalah berdasarkan jaminan Presiden Palestina Mahmoud Abbas bahwa pihaknya akan mereformasi sistem pemerintahan di Palestina.
Antara lain, melalui pelaksanaan pemilihan umum di tahun 2026, yang tidak akan diikuti Hamas, serta memastikan “demiliterisasi negara Palestina”.
Sembari menuntut dibebaskannya semua sandera yang masih ditahan oleh Hamas, Carney turut mengecam Israel yang membiarkan situasi kemanusiaan di Jalur Gaza semakin buruk.
Awal bulan ini, pemerintah Prancis dan Inggris juga menyatakan rencana mereka mengakui Palestina pada agenda PBB yang sama. Keputusan negara-negara Barat terkait pengakuan Palestina tersebut membuat rezim Zionis Israel murka.
Langkah Positif
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menyambut baik semakin banyak negara Barat yang mengakui Palestina sebagai langkah positif untuk menegaskan kedaulatan Palestina dan mewujudkan solusi dua negara.
Ditemui usai menerima kunjungan Menlu Somalia Abdisalam Abdi Ali di Jakarta, Kamis, Menlu RI menyebut pengakuan kedaulatan Palestina sebagai aksi konkret yang diharapkan daripada sekadar “pembicaraan di setiap pertemuan demi pertemuan” terkait solusi dua negara.
“Kami berterima kasih dan berharap semakin banyak lagi negara yang akan mengakui Palestina, sehingga apa yang selama ini kita bicarakan soal solusi dua negara terwujud secara nyata dan tak berhenti pada tataran pembicaraan,” kata Sugiono.
Ia mengatakan bahwa Indonesia telah menyampaikan apresiasi kepada Prancis dan Inggris, pada khususnya, atas keputusan mereka baru-baru ini untuk mengakui Palestina.
Menlu RI pun berharap supaya langkah konkret ini semakin mendorong Palestina untuk menjadi negara yang merdeka dan berjaya di tengah komunitas internasional.
Di samping itu, Singapura juga menyatakan “siap secara prinsip” untuk mengakui Negara Palestina, dengan pertimbangan bahwa langkah tersebut akan mendorong perdamaian dan terwujudnya solusi dua negara. (ant)


