Giri Menang (Suara NTB) – Warga masyarakat terutama para perajin dan pelaku usaha Arthop Gerabah Desa wisata Banyumulek Kecamatan Kediri, Lombok Barat mengeluhkan kendaraan pengangkut sampah yang hampir tiap saat lalu lalang di jalur tersebut. Bahkan di siang hari, intensitas kendaraan sampah yang lalu lalang seolah tak terkontrol. Akibatnya, selain membahayakan warga juga menganggu para wisatawan yang berkunjung ke desa wisata itu.
Perajin sekaligus pemilik Art Shop Kodong Sasak Desa Banyumulek, Umi Dewi yang ditemui media di tempat usahanya Selasa (5/8/2025), menyampaikan saat ini sentra kerajinan gerabah di desa itu mulai menggeliat. Pasca-covid tahun 2019-2020 lalu, tamu yang berkunjung ke desa itu lumayan ramai. Terutama tamu dari luar negeri, karena banyak dibangun hotel dan villa di Lombok Tengah serta Gili KLU, para investornya datang berkunjung ke sentra gerabah untuk wisata belanja.
“Cuma satu yang membuat tamu wisatawan tidak nyaman, yaitu truk sampah yang lalu lalang ke TPA Kebon Kongok,” keluhnya.
Jalur pengangkutan sampah ini melalui jalan utama di desa wisata itu. Para tamu merasa terganggu ketika kendaraan sampah lewat, terutama bau yang ditimbulkan dari sampah tersebut. “Itu satu truk saja yang lewat bau sampah nya bisa satu jam, bayangkan kali sekian truk yang lewat angkut sampah itu tiap hari. Itu sangat menganggu wisatawan. Masak daerah wisata kaya begini, dilalui sama truk sampah,” katanya heran.
Bahkan ada para tamu penasaran dengan bau tak sedap, mereka bertanya ke pengelola art shop. Bahkan yang penasaran asal bau itu, sampai mencari sumbernya darimana. “Padahal itu bau sampah, yang sangat mengganggu,” ujarnya.
Ia pun meminta agar hal ini segera ditangani pemerintah terkait. Ia meminta agar jalur pengangkutan sampah ini harus dialihkan ke jalur lain, sebab daerah ini desa wisata yang butuh kemanan dan kenyamanan.
Ada rencana pemerintah mengalihkan ke jalan alternatif tanggul sungai di sekitar desa itu, namun ia mengeluhkan bertahun-tahun lamanya, berapa kali ganti Gubenur dan Bupati rencana itu tak kunjung direalisasikan. “Sampai sekarang ini, jadi kami minta tolong itu diperhatikan karena kami warga dan wisatawan merasa tidak nyaman dengan bau sampah ini,” imbuhnya.
Sementara itu, Kades Banyumulek H Jamiludin mengatakan bahwa sebagai desa wisata seharusnya Desa Banyumulek bersih dan bebas dari gangguan, seperti kendaraan pengangkut sampah yang lalu lalang di desa itu. “Banyak truk pengangkut sampah dari kota Mataram dan Lobar lewat jalan desa kami, itu sangat tidak pas, karena desa wisata, mengganggu pengunjung,” keluhnya.
Pihak desa telah lama mengusulkan pengalihan jalur truk pengangkutan sampah tersebut ke jalur tanggul sungai yang tembus ke TPA Desa Sukamakmur.
Jalan alternatif itu harus segera direalisasikan, karena dampak lalu lalang kendaraan sampah ini mempengaruhi desa wisata setempat. Para wisatawan yang berkunjung berkurang, karena tidak nyaman dengan trik sampah yang menimbulkan bau tidak sedap. Hal senada disampaikan Ketua BPD Banyumulek Sarbini Azhari bahwa, warga dan pengunjung mengeluhkan jalan di desa itu menjadi jalur pengangkut sampah.
Sebab selain bau tak sedap, juga akibat jalan sempit rawan terjadi kecelakaan. Ketika ada acara keagamaan di Masjid misalnya, warga sangat terganggu dengan kendaraan sampah yang lalu lalang hampir setiap saat. Dalam sehari bisa puluhan truk sampah yang lalu lalang di jalan itu. “Tamu juga banyak yang terganggu, tidak kerasan berkunjung kesini,” imbuhnya. Untuk itu ia pun mendesak agar jalur truk sampah dialihkan.
“Kami minta agar truk pengangkutan sampah ini dialihkan jalurnya, itu ndak panjang kok sekitar 2 kilometer sampai ke TPA,” ungkapnya.
Jalur alternatif khusus pengangkutan Sampah ini, telah lama dirancang Pemerintah. Itu melalui jalan pinggir sungai Babak hingga ke TPA. Badan “Jalan itu itu sudah ada, tinggal diaspal,”ujarnya. (her)


