Giri Menang (Suara NTB) – Persoalan kebersihan masih menjadi tantangan serius di Lombok Barat, terutama di kawasan pariwisata. Penanganannya pun butuh peran serta semua pihak. Menyadari itu, para pemuda di Dusun Cemara Desa Lembar pun tergerak membentuk Komunitas Lingkungan Cemara Ecogreen untuk menangani sampah yang ada di kawasan wisata tersebut.
Mereka mampu mengolah sampah secara swadaya hingga 2 ton per harinya, baik yang berasal dari sampah rumah warga maupun pengunjung daerah wisata itu. Pengolahan sampah ini juga dijadikan paket wisata yang dijual kepada para tamu Asing. Dari situ para pemuda ini diberikan insentif oleh tamu. Mus’ab, pegiat Komunitas Lingkungan Cemara Ecogreen sekaligus pelaku pariwisata di dusun setempat mengatakan, sampah ini menjadi tantangan dan ujian di daerah wisata.
“Semakin kita intens tanggulangi, semakin banyak produksi sampah ini. Dan kami tembak masyarakat sadar sampah barulah baru ke pengunjung,”katanya akhir pekan kemarin. Pihaknya pun terus bergerak menyadarkan warga dan pengunjung sadar akan sampah dan menjaga kebersihan. Setelah warga dan pengunjung sadar, barulah nantinya ia mengusulkan ke Desa untuk menerbitkan Perdes pengelolaan sampah.
Ia menyebutkan, dalam sehari produksi sampah di kawasan itu hingga 2 ton. Dalam penanganan sampah ini, Komunitas Lingkungan Cemara Ecogreen yang beranggotakan 15 orang pemuda setempat telah lama dibentuk. Namun dalam hal edukasi masyarakat diakuinya cukup berat. Namun hal itu tak membuat mereka patah semangat. Selain nengedukasi warga, mereka memilih sampah organik dan anorganik. Sampah yang dipilah sekitar 2 ton per hari dengan sistem pengelolaan dengan konsep sampah memberikan dampak ekonomi pada masyarakat.
Dari dua ton sampah yang dikelola ini, berasal dari sampah rumah tangga pendduduk sekitar dan sampah Pantai. Awalnya, pihaknya fokus menangani sampah Pantai, namun sampah warga dari rumah tangga berserakan. Sehingga ia mengubah pola dengan mengelola sampah warga dan barulah sampah Pantai. “Jadi dua-duanya balance,”katanya. Konsep pengelolaan sampah ini juga dijual menjadi paket wisata sehingga memberi dampak ekonomi pada warga.
“Kita juga buatkan paket eco tour, sampah kita buat paket wisata,”kata dia. Para pemuda ini diajarkan jadi guide menemani tamu wisatawan asing yang berkunjung. Dari paket eco tour itu, para pemuda mendapatkan insentif dari tamu. “Dari paket eco tour itu mereka dapat insentif, nanti sisanya masuk uang kas untuk kita operasional sampah,”ujarnya. Namun menurutnya mereka bekerja lebih banyak panggilan jiwa dan sosial. Sebagai anak pesisir, Ia berupaya membangun jiwa mereka agar bangga menjadi anak pesisir Cemara.
Dalam pengolahan sampah ini, Pihaknya juga bermitra dengan beberapa perguruan tinggi luar negeri seperti Belanda dan Eropa. Secara kebetulan kata dia, mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi tersebut sering berkunjung ke komunitas Lingkungan Cemara Ecogreen untuk pendampingan serta belajar tentang Sampah. Sehingga kendala yang dihadapinya dalam pengelolaan sampah, diberikan solusi dari mereka. Termasuk kata dia mesin pengolahan sampah organik dibantu oleh pihak terkait.
Sementara sampah plastik yang dihasilkan dari pemilahan itu akan diolah menjadi barang bernilai seperti ecobrik. Untuk menyadarkan anak sejak dini tentang lingkungan, ia juga membuat sekolah non formal literasi pesisir yang peserta didiknya hampir 60 dari tingkat TK hingga SMP. Anak-anak nelayan di pesisir daerah itu dididik agar paham tentang lingkungan mulai dari kebersihan.
Sampah ini menjadi media bermain dan pengenalan kepada anak, mulai dari belajar mengenali serta memilah sampah organik dan anorganik. Sampah menjadi ecobrik, pengenalan ekosistem mangrove dan mamalia laut yang dilindungi. “Ini target jangka panjang kami, sehingga mereka nanti tumbuh dengan memiliki kesadaran tentang lingkungan,”mbuhnya.
Adanya komunitas Lingkungan Cemara Ecogreen ini berdampak positif terhadap Kawasan Pantai Cemara . Kebersihan Kawasan wisata ternama itu terpelihara sehingga pengunjung pun lebih nyaman berkunjung ke sana. Ia berharap semangat pemuda seperti di dusun Cemara ini didukung oleh Pemkab agar terus terpelihara dan kian berkembang kedepan. (her)


