spot_img
Selasa, Februari 17, 2026
spot_img
BerandaNTBSUMBAWATujuh Kecamatan di Sumbawa Mulai Dilanda Kekeringan

Tujuh Kecamatan di Sumbawa Mulai Dilanda Kekeringan

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbawa mencatat sebanyak tujuh kecamatan mulai terdampak kekeringan jelang puncak musim kemarau. Puncak musim kemarau diprediksi mulai terjadi di akhir bulan Agustus hingga September mendatang.

“Iya, sudah ada kecamatan yang meminta pendistribusian air bersih karena kondisi air sumur masyarakat mulai menyusu. Kalau pun ada air tetapi tidak layak dikonsumsi,” kata Kalak BPBD Sumbawa, Muhammad Nur Hidayat, kepada Suara NTB, Kamis, 21 Agustus 2025.

Ia turut merincikan, di Kecamatan Buer ada satu desa yakni Kalabeso, di Alas Barat desa Ai Jati. Sementara untuk kecamatan Lape ada tiga desa yakni Dete, Hijrah, dan Labuhan Kuris, di Kecamatan Moyo Hulu desa Maman, Marga Karya, dan Motong.

“Kalau di Kecamatan Moyo Utara, Dusun Kukin di Desa Ai Bari, Kecamatan Utan Desa Labuhan Bajo, dan Kecamatan Sumbawa di Kelurahan Uma Sima tepatnya di perumahan Samawa Regency,” ucapnya.

Dayat menyebutkan, terhadap desa-desa yang sudah melaporkan itu, pihaknya masih melakukan pengecekan lebih lanjut termasuk jumlah masyarakat yang terdampak. Hal tersebut perlu dilakukan untuk memastikan penanganan yang dilakukan nanti tepat sasaran dan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

“Memang sudah ada beberapa desa yang datang melapor, tetapi kami tetap akan melakukan pengecekan dan pendataan lebih lanjut untuk menekan terjadinya hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Disinggung terkait total kepala keluarga (KK) dan jiwa terdampak kekeringan tersebut, Dayat memastikan masih dilakukan pendataan sekaligus verifikasi lapangan. Hal itu dilakukan karena dari tujuh kecamatan, bisa jadi ada beberapa dusun yang tidak terdampak tidak secara keseluruhan.

“Kami masih lakukan pengecekan lebih lanjut untuk jumlahnya, tetapi yang jelas kondisi tujuh desa tersebut sudah masuk kategori siaga kekeringan,” ucapnya.

Berdasarkan data sedikitnya ada sekitar 40 desa di wilayah setempat yang masuk dalam kategori rawan kekeringan jelang puncak musim kemarau. Data tersebut merupakan daerah yang didistribusikan air bersih pada tahun 2024 lalu sebagai daerah rawan.

“Kita sudah prediksi kemungkinan yang terjadi, makanya kita tetap akan melakukan pemantauan ke sejumlah lokasi rawan sehingga kita bisa lakukan penanganan segera,” tambahnya.

Dia pun meyakinkan, siklus musim kemarau ini hampir terjadi setiap tahun dan pola antisipasi juga sudah disiapkan oleh pemerintah. Bahkan untuk sementara sudah ada beberapa yang meminta pendistribusian air bersih.

“Memang sudah beberapa desa yang meminta pendistribusian air bersih, tetapi belum bisa kita berikan karena status kita masih siaga. Tetapi kita tetap antisipasi jelang puncak musim kemarau di akhir bulan Agustus hingga September mendatang,” tukasnya. (ils)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO