Minggu, Maret 8, 2026

BerandaNTBLOMBOK UTARAPemda KLU Gerakkan OPD Terlibat Asuh Stunting

Pemda KLU Gerakkan OPD Terlibat Asuh Stunting

Tanjung (Suara NTB) – Pemda Kabupaten Lombok Utara (KLU) terus berupaya menurunkan angka angka stunting di daerah. Salah satu langkah percepatan yang dilakukan adalah pelibatan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemda KLU untuk terlibat mengasuh anak yang tergolong stunting.

Hal tersebut dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Lombok Utara, dr. H. Lalu Bahrudin, M. Kes., Kamis, 28 Agustus 2025.

Dikatakan, Bupati Lombok Utara telah menginstruksikan agar terdapat inovasi dalam penanganan stunting. Bupati dalam hal ini mengerahkan agar seluruh OPD ikut bertanggungjawab mengasuh anak yang terindikasi stunting dan gizi buruk.

“Pemda memiliki gerakan inovasi baru, dimana semua OPD ikut bertanggungjawab mengasuh stunting. Pak Bupati sudah memerintahkan semua OPD, tanpa terkecuali menyikapi dan menurunkan angka stunting,” tegas Bahrudin, di aula Kantor Bupati, kemarin.

Ia menjelaskan, Pemda melalui Dikes Lombok Utara sudah meluncurkan program Posyandu khusus Stunting. Dalam pelaksanaannya, posyandu stunting menambah satu meja pelayanan dari posyandu konvensional pada umumnya.

“Di posyandu keluarga, konvensional ada 5 meja. Di posyandu stunting ada 6 meja. Jadi ada satu meja tambahan, yaitu self assessment,” katanya.

Di setiap posyandu stunting, utusan OPD harus terlibat. Pada meja asesmen inilah, seluruh OPD akan berdiskusi terkait formula penanganan yang tepat sehingga korban stunting bisa bebas dari status tersebut.

Bahrudin menyambung, program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang akan diluncurkan di Lombok Utara diharapkan dapat membantu menangani kasus stunting. Sebagaimana hajat tujuannya, MBG dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pemenuhan gizi yang baik pada anak sekolah, balita, dan ibu hamil.

Program ini tidak hanya mengurangi malnutrisi dan stunting, melainkan meningkatkan status kesehatan dan kecerdasan generasi penerus, serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pemberdayaan UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Ia juga menyadari, faktor penyebab masih tingginya angka kasus stunting di Lombok Utara tidak hanya kerawanan pangan pada keluarga penderita. Lebih dari itu, pemicu yang paling sering dijumpai adalah pola asuh. Pada banyak penderita, faktor pola asuh ini menjadi perilaku yang sulit diubah karena berhubungan pula dengan latar belakang pemahaman keluarga.  (ari)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO