Kota Bima (Suara NTB) – Sekitar 40 persen bangunan sekolah di Kota Bima mengalami kerusakan ringan hingga berat. Kondisi ini menjadi perhatian Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Bima karena kebutuhan sarana dan prasarana (sarpras) belum sepenuhnya terpenuhi.
Kepala Seksi (Kasi) Kelembagaan dan Sarana Prasaran Bidang Dikdas Dikpora Kota Bima, Saiful Akbar, ST., M.M., menjelaskan sebagian besar sekolah masih membutuhkan perbaikan atau revitalisasi.
“Sekolah-sekolah di wilayah Kota Bima, masih membutuhkan perbaikan atau revitalisasi bangunan. Karena kebutuhan sarana (yang kurang) ini memang belum ada yang terbangun (baru). Kalau (bangunan) yang sudah ada (butuh perbaikan) karena namanya bangunan, tetap mengalami penyusutan, rusak, dan sebagainya, dilakukanlah rehab. Jadi memang berkelanjutan, rehab ini tetap ada. Bukan hanya di Kota Bima tapi di semua daerah polanya sama,” jelasnya saat dihubungi Suara NTB pada Jumat, 29 Agustus 2025.
Ia menegaskan bahwa kondisi bangunan sekolah yang maaih bagus sekitar 60 sampai 70 persen saja. “Sekolah yang butuh perbaikan atau revitalisasi di Kota Bima mencapai 30 sampai 40 persen. Karena yang layak secara representatif baru sekitar 60 sampai 70 persen saja,” sebutnya.
Ia merinci, sebagian besar kerusakan masuk kategori ringan. Untuk rusak ringan bisa ditutupi dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun, dana BOS ini juga tidak bisa banyak digunakan untuk menangani sarana dan prasarana.
“Untuk rusak sedang dan berat ini sedikit. Lebih banyak yang rusak ringan. Kalau rusak berat sekali tidak ada. Paling tiga atau empat sekolah saja yang rusak berat, itu pun yang lokasinya memang agak jauh di dataran tinggi atau pegunungan. Kalau yang di dataran bawah ini tidak terlalu,” jelasnya.
Selain kerusakan, kebutuhan sarpras juga belum sepenuhnya terpenuhi. Beberapa sekolah masih kekurangan fasilitas dasar. “Kebutuhan sarana memang belum terpenuhi semua. Misalnya sekolah A kekurangan toilet, sekolah B belum ada lab komputer. Jadi setiap tahun tetap ada penambahan-penambahan sarana,” katanya.
Saiful juga menyinggung keterbatasan anggaran daerah yang membuat banyak kebutuhan belum bisa diakomodasi. “Di Kota Bima sarana seperti laboratorium pada beberapa bidang masih kurang. Kelas juga masih ada yang kurang. Tapi kita jangan berpikir bisa membangun langsung karena tergantung usulan pada APBN dan APBD. Cuma di APBD terkendala di anggaran yang minim jadi tidak bisa terakomodir semua sekolah, hanya beberapa saja yang bisa kita rehab,” ujarnya.
Dinas berupaya membantu sekolah-sekolah agar mendapat tambahan sarpras melalui jalur pusat. “Kalau bangunan sekolah negeri dan swasta itu terpakai semua, memang kekurangan bangunan. Makanya kita bantu untuk mendapatkan bantuan melalui APBN, melalui Dapodik,” pungkasnya. (hir)



