spot_img
Sabtu, Januari 31, 2026
spot_img
BerandaBREAKING NEWSLPA Kota Mataram Dampingi Dua Siswa Diduga Terlibat Aksi Demonstrasi

LPA Kota Mataram Dampingi Dua Siswa Diduga Terlibat Aksi Demonstrasi

Mataram (suarantb.com) – Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram tengah melakukan pendampingan terhadap dua siswa dari salah satu SMP di Mataram. Kedua siswa tersebut diduga ikut serta dalam aksi demonstrasi di Kantor DPRD NTB pada Sabtu (30/8/2025).

Ketua LPA Kota Mataram, Joko Jumadi mengatakan, pihaknya saat ini tengah melakukan proses pendampingan kepada dua pelajar tersebut. “Termasuk dia (diduga) terlihat melakukan perusakan di kantor DPRD NTB kemarin,” katanya kepada Suara NTB, Senin (1/9/2025) sore.

Joko menyampaikan, LPA Kota Mataram sudah berkoordinasi dengan pihak satuan pendidikan tempat anak tersebut bersekolah. Koordinasi dilakukan agar anak tersebut tidak terlibat kembali dalam aksi-aksi serupa.

“Kita juga menyampaikan kepada sekolah untuk pengawasan anak-anak ini,” jelasnya.

Yang menjadi pekerjaan rumah (PR), terutama sekolah, kata Joko, adalah memastikan peserta didik tidak terlibat dalam aksi yang menimbulkan kericuhan di luar jam sekolah.

Pentingnya Peran Orang Tua

Selain itu, LPA juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam pengawasan terhadap anak-anak ketika berada di luar sekolah, khususnya di rumah.

“Nah sepulang sekolah ini kan sering kali orang tua juga tidak melakukan pengawasan secara maksimal,” ujar Joko.

Meski demikian, LPA belum menemukan adanya korban akibat pelibatan siswa dalam aksi demonstrasi. Namun, di sisi lain LPA justru menyoroti adanya keterlibatan pelajar dalam aksi demonstrasi yang berujung pada tindakan kekerasan.

“Di Jakarta juga begitu. Anak-anak STM yang lebih agresif. Masih agak mending, tapi kalau ini yang anak-anak STM ini ada apa sebenarnya? Ini yang menjadi PR kita,” terang Joko.

Di situasi yang terbilang cukup kondusif saat ini, LPA tetap menekankan langkah antisipatif baik dari sekolah maupun orang tua untuk mencegah siswa kembali terlibat dalam aksi yang bersifat anarkis.

“Kalau sekarang ini yang bisa kita lihat adalah pengetatan di sekolah. Ada beberapa yang kemudian melakukan upaya dengan cara memodifikasi jam pembelajaran,” tutur Joko. Selain peran sekolah, Joko juga mengimbau agar orang tua melakukan upaya pengawasan terhadap anak-anaknya. “Orang tua bisa melakukan pengawasan terhadap anak-anaknya, sekolah juga melakukan pengetatan. Harus dua-duanya dilakukan secara simultan,” pungkasnya. (sib)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO