Bima (Suara NTB) – Kabupaten Bima menyimpan banyak spot wisata yang punya potensi besar. Namun hingga kini belum ada destinasi yang benar-benar menjadi kebanggaan daerah. Minim dukungan sarana dan prasarana (sarpras) membuat sektor pariwisata sulit mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Potensi destinasi wisata di Kabupaten ini memang banyak, spot-spotnya juga banyak. Cuma sampai dengan hari ini belum ada yang membanggakan terkait dengan masalah PAD untuk daerah,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, Salam Gani, Jumat, 5 September 2025.
Menurutnya, Pemkab membutuhkan dukungan penuh untuk membangun sarpras jika ingin sektor pariwisata berkontribusi besar bagi PAD. “Seharusnya kita memberikan dukungan sarpras di semua destinasi. Kalau sudah ada aset pemerintah, artinya PAD itu bisa kita tarik berdasarkan aturan, sesuai perda,” jelasnya.
Salam mencontohkan Pantai Wane yang belakangan viral. Potensi pendapatan di lokasi itu cukup tinggi. “Pantai Wane itu luar biasa, bahkan dalam satu hari tukang parkir saja bisa sampai ratusan juta per hari. Tapi memang bukan setiap hari, di hari-hari tertentu saja. Hari biasa saya yakin lumayan. Tapi di situ kan dikelola oleh teman-teman Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di situ saja. Artinya mereka penggiat wisata, jadi belum ditarik PAD, karena di sana belum ada sarpras yang dibangun pemerintah,” terang Salam.
Ia mengakui keterbatasan anggaran menjadi kendala utama. “Mengapa belum dibangun, karena seperti yang kita tahu bersama intervensi pemerintah terhadap pariwisata itu sekarang seperti apa (keterbatasan anggaran). Dengan belum adanya sarpras yang memadai membuat kita belum bisa berekspresi,” tambahnya.
Tantangan semakin besar karena pada 2025 hingga 2026, Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pariwisata sudah tidak ada lagi. “Harapan pariwisata satu-satunya dulu ada di DAK, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Sempat ada di 2024 kemarin. Harapan kita sebenarnya kalau tidak ada anggaran dari pusat, ada dari daerah lah. Tapi seperti kita tahu sekarang anggaran di daerah juga sangat pas-pasan,” tuturnya.
Meski begitu, ia mengapresiasi komitmen Bupati Bima terhadap pengembangan pariwisata. “Bupati kita ini luar biasa intervensinya terhadap pariwisata. Dengan minimnya sapras untuk menarik wisatawan, beliau hadirkan berbagai macam event di spot-spot pariwisata yang Bima punya. Contohnya hadir di beberapa festival sebagai promosi, seperti Festival Sangiang Api, Festival Labibano, dan nanti ada Festival Wadu Sura di Sape,” jelasnya.
Event-event itu, lanjut Salam, penting untuk merangsang kunjungan wisatawan. “Apalagi sesuai dengan indikator kinerja pariwisata, target kita itu adalah bagaimana meningkatkan kunjungan wisatawan baik mancanegara maupun nusantara,” katanya.
Ia menegaskan, pemerintah tetap harus membangun sarpras jika ingin memenuhi target tersebut. Destinasi seperti Pulau Kelapa dan Pantai Pink sudah dikenal luas, tetapi belum tergarap optimal. “Pantai Pink itu sudah viral dari dulu. Tapi sampai sekarang spot-spot itu dimanfaatkan orang-orang Labuan Bajo, daerah lain. Karena mereka memberikan sarana dan prasarana seperti hotel, sementara di wilayah kita tidak ada,” tegasnya.
Sejumlah investor, kata Salam, sempat berminat menanamkan modal. Namun mereka membatalkan rencana karena berbagai pertimbangan. “Sudah survei, sudah tertarik, tapi dibatalkan. Alasannya karena faktor keamanan, faktor ini itu yang mereka waspadai,” jelasnya.
Karena itu, Pemkab Bima melalui Dispar kini berusaha menata sedikit demi sedikit. “Kita ke depannya berusaha sedikit demi sedikit, melaksanakan pembangunan sarpras, melakukan penataan dan pemeliharaan pada bangunan pariwisata,” tandasnya. (hir)



