Giri Menang (Suara NTB) – Tantangan berat Badan Pemkab Lombok Barat (Lobar) dalam hal ini Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk menangani sejumlah persoalan. Mulai dari pengentasan kemiskinan dan miskin ekstrem mencapai 108.877 jiwa, masing-masing angka kemiskinan 96.570 jiwa, ditambah 12.307 jiwa miskin ekstrem hingga persoalan sampah. OPD pun dituntut bekerja keras dalam menangani persoalan ini.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lobar M. Busyairi, MM., mengakui, persoalan sampah menjadi tantangan berat yang harus ditangani. Langkah penanganan pun tengah berproses, yakni pengadaan mesin Insenerator Masaro yang diadakan tahun ini sebanyak dua unit, dengan kapasitas masing-masing 20 ton per hari untuk membakar sampah plastik. Alat ini ditempatkan di PDU Lingsar dan TPST Senteluk.
Alat ini untuk menangani sampah yang ada di empat kecamatan, yakni Lingsar dan Narmada, serta Gunungsari dan Batulayar. Kalau alat tersebut terpasang tahun ini dan tuntas Desember, maka persoalan sampah di empat kecamatan ini bisa tertangani, walupun tidak bisa 100 persen, paling tidak bisa 90 persen. Sedangkan sisa sampah yang tidak terolah nanti dibuang ke TPA Kebon Kongok. “Menyusul di tahun depan, sesuai komitmen Pak Bupati untuk menyelesaikan sampah ini akan menyusul di kecamatan-kecamatan lain,”ujarnya.
Permasalahan sampah ini, menurutnya, butuh peran semua pihak. Sampah menjadi tugas bersama, tanggung jawab semua orang. Terutama pada pangkal persoalan sampah ini pada pemilahan sampah dari rumah tangga. Sebab jika sudah terpilah di rumah tangga, maka pengolahan bisa lebih mudah.
Sementara itu, Kepala Bappeda yang baru dilantik, Deny Arief Nugroho, ST.,ME,. menerangkan angka kemiskinan saat ini 12,65 persen atau 96 ribu jiwa lebih. Tantangannya bagaimana menekan angka kemiskinan ini.
Yang perlu disiapkan adalah data, sebagai langkah awal untuk menentukan penasaran terhadap individu maupun kepala keluarga yang miskin maupun miskin ekstrem. Hal ini pun sudah dibahas dengan Wabup, dimana warga yang disasar betul-betul pada kerak Kemiskinan apakah itu bentuknya bantuan sosial, hibah ataupun Program yang tepat sasaran.
Seperti pada penanganan rumah kumuh, peningkatan pendapatan masyarakat. Bagaimana warga miskin ekstrem ini bisa ditingkatkan atau dientaskan dari status tersebut. Terkait penanganan Kemiskinan di Lobar, Pihaknya membuat konsep dengan lokus atau desa yang prioritas untuk diintervensi melalui program-program OPD.
Sasaran ini ditentukan melalui rumusan bersama dan data yang valid. Bukan berati kata dia, pemerataan alokasi anggaran untuk seluruh daerah, namun ada intervensi yang harus dilakukan ke Program prioritas. Mungkin saja desa A tidak mendapatkan alokasi untuk lokus Kemiskinan, tetapi mungkin akan dapat program lainnya. Seperti stunting, pertumbuhan ekonomi, infrastruktur.(her)



