spot_img
Jumat, Januari 30, 2026
spot_img
BerandaBIMASampah Masih Berserakan di Jalan TPA Oi Mbo Bima

Sampah Masih Berserakan di Jalan TPA Oi Mbo Bima

Bima (Suara NTB) – Pemerintah Kota (Pemkot) Bima terus menggencarkan Gerakan BISA, akronim dari Bersih, Indah, Sehat, dan Asri, untuk menciptakan kota yang bermartabat. Wali Kota Bima, H. A. Rahman H. Abidin, SE., bersama Wakil Wali Kota, Feri Sofiyan, S.H., menargetkan perubahan nyata di seluruh wilayah kota, termasuk titik-titik yang jarang terjamah warga.

Gerakan BISA sudah membawa hasil di wajah utama Kota Bima. Jalanan kota kini lebih terkendali dari sampah. Armada pengangkut sampah yang sebelumnya hanya beroperasi tiga kali sepekan, kini bekerja setiap hari. Namun, persoalan kebersihan masih tampak jelas di sejumlah jalur strategis.

Salah satunya di sepanjang jalan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Oi Mbo, Kecamatan Rasanae Timur. Di mana, sebagai Jalan penghubung antara Kota Bima dan Kabupaten Bima bagian timur ini sepi lalu lintas warga. Kondisi sepi itu justru membuat warga tidak segan membuang sampah sembarangan.

Pantauan Suara NTB, sepanjang jalur menuju TPA, sampah terlihat berceceran. Di beberapa titik, tumpukan sampah menjelma tempat pembuangan liar. Padahal, Pemkot Bima sudah memasang papan peringatan larangan membuang sampah di lokasi itu.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bima, Syahrial Nuryadin, mengakui kondisi tersebut. “Saya sudah jalan-jalan ke sana, ke TPA. Memang sepanjang jalan itu sampah banyak. Tentunya sudah pasang plang dan sebagainya. (Tapi) kembali lagi ke kesadaran masyarakat yang memang masih kurang,” jelasnya kepada Suara NTB, Kamis, 11 September 2025.

Syahrial menegaskan, untuk permasalah tersebut, pihaknya menyiapkan rencana besar untuk menata jalur menuju TPA. Ia ingin mengubah kesan kumuh yang melekat di kawasan itu.

“Nanti ke depan ada rencana untuk sepanjang jalan TPA itu, niatnya ingin dijadikan wisata. Bukan hanya sekadar untuk (jalur yang dilewati truk) sampah, tapi nanti ada taman yang bagus, pohon yang bagus, supaya anggapan orang itu bukan hanya tempat pembuangan sampah, tapi juga bisa sebagai tempat wisata. Jadi mau ditata dan dipercantik sepanjang jalan itu,” ujarnya.

Permasalahan sampah masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Pemkot bima. Sebab, DLH mencatat, dari total sampah yabg dihasilkan setiap harinya di Kota Bima, baru 60 hingga 70 persen yang bisa terangkut ke TPA. Artinya, sekitar 30 hingga 40 persen sampah masih tercecer di lingkungan warga. Kondisi ini menuntut kerja keras pemerintah bersama masyarakat.

Gerakan BISA, kata Syahrial, tidak cukup berhenti pada penambahan armada pengangkut sampah. Pemerintah perlu dukungan penuh dari warga. Tanpa perubahan perilaku, program besar ini sulit mencapai target.

“Kesadaran masyarakat memang kunci. Kami bisa pasang plang, bisa tambah armada, bisa tata jalannya. Tapi kalau warga tetap buang sampah sembarangan, wajah kota tetap susah indah,” pungkasnya.

Dengan rencana penataan kawasan TPA, Pemkot Bima ingin membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak melulu soal pembuangan. Jalan menuju TPA Oi Mbo bisa berubah menjadi ruang hijau yang menyejukkan, sekaligus simbol nyata Gerakan BISA yang bermartabat. (hir)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO