PEMERINTAH Kecamatan Ampenan tetap melakukan pemantauan intensif di kawasan pesisir pantai, meskipun peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi banjir rob di wilayah tersebut telah resmi berakhir pada Sabtu, (13/9/2025).
Camat Ampenan, Muzakkir Walad menegaskan, meskipun kondisi cuaca mulai membaik dan relatif kondusif, pihaknya tetap mengimbau masyarakat pesisir untuk tidak lengah serta selalu waspada terhadap kemungkinan perubahan cuaca secara tiba-tiba.
“Kami tetap melakukan patroli di wilayah pesisir bersama kepala lingkungan (kaling), anggota Linmas, serta Satgas dari BPBD. Hal ini untuk memastikan kondisi di lapangan benar-benar aman dan masyarakat merasa terlindungi,” ujarnya, Minggu, 14 September 2025.
Patroli dan pemantauan dilakukan secara berkala, terutama di titik-titik yang sebelumnya terdampak banjir rob seperti Lingkungan Bugis dan Pondok Perasi. Pemerintah kecamatan juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait guna mengantisipasi risiko lanjutan dan memastikan jalur evakuasi tetap terbuka.
Selain itu, pihak kecamatan juga mengaktifkan peran Tim Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Kelompok Siaga Bencana (KSB) binaan Pertamina untuk membantu memantau situasi, memberikan edukasi kepada masyarakat, serta membantu proses evakuasi jika diperlukan.
Sebelumnya, BMKG telah mengeluarkan peringatan potensi banjir rob pada 7–13 September 2025. Peringatan tersebut dipicu oleh fenomena “cron moon” yang menyebabkan pasang maksimum air laut. Meski masa peringatan telah berakhir, dampaknya masih menyisakan kekhawatiran di sejumlah wilayah pesisir di NTB, termasuk Ampenan.
“Kita melihat kondisi gelombang masih kondusif dan relatif aman. Tapi imbauan tetap kita sampaikan,” tambah Walad.
Dengan langkah preventif ini, pemerintah kecamatan berharap masyarakat tetap siaga dan tidak mengabaikan informasi resmi dari pemerintah maupun BMKG terkait potensi cuaca ekstrem di wilayah pesisir. (pan)



