Mataram (Suara NTB) – Upaya mendukung pengembangan usaha mikro berbasis pangan lokal terus dilakukan oleh Perguruan Tinggi. Salah satunya adalah kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang digelar oleh tim dosen dan mahasiswa Program Studi Teknologi Hasil Pertanian (THP) Faperta Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) bekerja sama dengan dosen Fatepa Universitas Mataram (Unram).
Kegiatan PkM yang didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemdiksaintek melalui program hibah Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun Anggaran 2025 ini menggandeng Kelompok Tani Batu Bolong Sejahtera Desa Batulayar Lombok Barat sebagai mitra. Kelompok tani ini dikenal sebagai produsen gula merah cetak berbahan dasar air nira aren, produk yang sudah lama menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat sekitar.
Program PkM ini dirancang dalam beberapa tahapan pertemuan, dengan tujuan akhir meningkatkan kapasitas mitra baik dari sisi pengetahuan, keterampilan cara pengolahan, maupun sarana produksi. Pada pertemuan kedua yang berlangsung 10 Juli 2025, tim melaksanakan kegiatan Penyuluhan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB).
CPPOB merupakan pedoman yang sangat penting bagi para pelaku usaha pangan untuk menghasilkan produk yang aman, bermutu, dan sesuai dengan standar keamanan pangan. Melalui penyuluhan ini, kelompok tani didampingi untuk memahami prinsip-prinsip dasar produksi pangan yang baik agar mampu mengajukan izin edar usaha (PIRT), sehingga produk mereka dapat lebih mudah menembus pasar yang lebih luas.
Kegiatan dimulai dengan pre-test untuk mengukur sejauh mana pemahaman awal peserta mengenai konsep CPPOB. Setelah itu, tim pelaksana yang diwakili oleh Ir. Asmawati, M.P. menyampaikan materi mengenai standar CPPOB yang berhubungan langsung dengan proses pengolahan nira menjadi gula merah cetak dan gula semut. Materi mencakup aspek penting seperti: pemilihan bahan baku nira yang segar dan berkualitas, teknik pengolahan yang higienis, prosedur perebusan dan pencetakan gula, pencegahan kontaminasi melalui sanitasi peralatan, serta pentingnya kemasan yang aman dan menarik.
Ketua Tim Pelaksana, Dina Soes Putri, M.Si., menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berhenti pada penyuluhan semata. Tim akan terus mendampingi kelompok tani selama dua bulan ke depan. “Pendampingan ini akan mencakup praktik langsung penerapan CPPOB, perbaikan alur produksi, hingga strategi pemasaran. Pada akhir program, mitra juga akan diberikan beberapa peralatan produksi dan pengemasan modern untuk menunjang usaha mereka,” jelasnya.
Ia menambahkan, bahwa dengan adanya bantuan berupa peralatan produksi dan pengemasan, diharapkan kelompok tani dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi gula arennya. “Jika kualitas produk meningkat dan kemasan lebih menarik, tentu omset penjualan akan bertambah. Hal ini akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan mitra,” lanjut Dina.
Di akhir kegiatan, dilakukan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta. Hasil sementara menunjukkan bahwa adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan dibandingkan dengan nilai pre-test, yang menandakan bahwa penyuluhan berhasil memberikan pemahaman baru bagi mitra.
Dengan adanya penyuluhan CPPOB dan pendampingan lanjutan, diharapkan Kelompok Tani Batu Bolong Sejahtera akan mampu menghasilkan produk gula merah (cetak dan semut) yang tidak hanya berkualitas tinggi, tetapi juga memiliki legalitas resmi untuk dipasarkan lebih luas. Pada akhirnya, kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu contoh sukses sinergi antara dunia akademik dengan masyarakat dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal. (ron)


