Giri Menang (Suara NTB) – Pemkab Lombok Barat melalui Dinas Pertanian Lombok Barat terus berupaya meningkatkan produksi dan produktivitas hasil pertanian, salah satunya melalui program inovasi “Siketan dan Brigade”. Brigade dan Siketan ini menyasar daerah-daerah pertanian optimalisasi lahan yang tadinya IP (Indeks Pertanaman) hanya sekali, diharapkan dengan Brigade dan Siketan yang melibatkan petani milenial ini bisa meningkatkan IP menjadi dua kali atau lebih.
Disamping program ini diharapkan bisa menyerap tenaga kerja di kalangan milenial, sesuai konsep program ini mengurangi pengangguran di desa dengan membuka lapangan kerja baru. Serta ketahanan pangan desa menjadi kuat.
Kadistan Lobar Hj. Damayanti Widyaningrum saat peluncuran program inovasi ini, Kamis (18/9/2025) menerangkan bahwa Brigadie Pangan ini satu kelembagaan petani yang lebih kuat dan tangguh adaptif terhadap pertanian.
“Jadi kami bentuk Brigade Pangan ini, khusus untuk petani milenial kita, salah satu syaratnya berumur 19-39 tahun, boleh juga di atas 39 tahun tapi memiliki kemampuan dan pengalaman terkait pertanian,” terang Damayanti.
Brigade pangan ini nanti memiliki kepengurusan, mulai manajer, beberapa divisi di antaranya produksi, alsintan, divisi keuangan, pemeliharaan dan lainnya. Sehingga dengan pengurus ini, ada inovasi.
Untuk memperkuat Brigade ini, pihaknya pun membuat inovasi sistem kemitraan Pertanian (Siketan). “Nanti sistem kemitraan Pertanian antara Brigade dengan petani-petani kita,” kata dia.
Nantinya petani ini akan kerja sama dengan Brigade pangan, dengan sistem pembagian tergantung kesepakatan, misalnya 70 Persen:30 persen. Mereka bermitra, dimana Brigade pangan yang mengurus semua. Brigade pangan ini bisa nanti memberikan Saprodi, Alsintan dan pelayanan terkait pembinaan, sosialisasi kepada petani.
Jenis tanaman yang digarap untuk sementara padi untuk meningkatkan produksi, ketahanan pangan di daerah. Dari kerjasama kemitraan itu lanjut dia, minimal menggarap 200 hektare. Dengan adanya program kemitraan ini, petani milenial bisa mendapatkan penghasilan dengan bagi hasil atas kesepakatan dengan petani. “Sehingga ini juga untuk mengurangi pengangguran, hitung-hitungannya kalau hasilnya 3,5 ton saja per hektar, hasil per bulannya sekitar 6,5-9 juta per bulan,” imbuhnya.
Mereka pun akan difasilitasi juga oleh Kementan, seperti bibit, pupuk dan alsintan. Pihaknya akan mengusulkan Brigade pangan ini untuk mendapat Alsintan tersebut. Tiga pola diterapkan pada Brigade pangan ini, yakni pola sewa tahunan, pola musim kemarau dan sistem kerjasama. Lahan yang digarap, lanjut dia, di lahan yang marjinal atau tadah hujan. Brigade dan Siketan ini baru pertama pilot project di Desa Banyu Urip.
Jika ini sukses, program ini akan menambah ke kecamatan lain. Terutama daerah yang mendapatkan program optimalisasi lahan, yang tersebar selain di Desa Banyu Urip, kemudian di Desa Pelangan kecamatan Sekotong dan Kuripan Timur. Daerah ini juga telah diperbaiki jaringan usaha tani, irigasi permompaan dan lainya sehingga air bisa tersedia. Kendati di lahan kering, akan disiapkan pompa.
Untuk optimalisasi lahan sendiri di Lobar ditargetkan 300 hektar, di mana di Desa Banyu Urip sendiri terdapat luas lahan pertanian 452 hektare yang mendapatkan optimalisasi lahan 130 hektare. (her)



