Sumbawa Besar (Suara NTB) – Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN NTB, Lalu Makripuddin, mengakui bahwa angka stunting di Provinsi NTB saat ini masih cukup tinggi yakni di angka 29,8 persen dari total kelahiran bayi dan balita berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).
“Kalau hasil evaluasi berdasarkan hasil SSGI kita masih cukup tinggi di angka 29,8 persen dari total jumlah kelahiran bayi dan balita. Kita berharap bisa dibawa 20 persen dan itu akan kita upayakan bisa tercapai,” ucapnya, kepada wartawan saat kunjungan di Sumbawa.
Pemerintah provinsi pada prinsipnya menargetkan di angka 14 persen atau minimal dibawah 20 persen. Karena stunting ini dikelompokkan menjadi empat kategori yang menentukan status dari lokus stunting itu sendiri.
“Kategori pertama yakni hijau angka stunting kita berada dibawa 20 persen, kuning 20-30 persen, merah 30-40 persen dan hitam diatas 40 persen. Kita tentu tidak berharap merah, kuning, bahkan coklat atau minimal dibawa 20 persen,” ucapnya.
Ia menyebutkan, tantangan utama untuk menciptakan generasi emas di tahun 2045 masih cukup kompleks. Salah satunya angka stunting yang masih cukup tinggi, apalagi stunting ini sangat menentukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) ke depan.
“Penanganan masalah stunting ini harus ada langkah cepat dan kebijakan yang cepat untuk mencegahnya sehingga pemerintah meluncurkan program quick wins,” ujarnya.
Faktor utama yang harus diperhatikan untuk menangani masalah stunting adalah gizinya. Kemudian dari faktor sensitif yang harus diketahui yakni masalah keadaan rumahnya, sanitasi, termasuk pendampingan terhadap mereka.
“Program GENTING (Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting) adalah program berkelanjutan, satu orang tua asuh minimal tiga bulan setelah tiga bulan kita akan cari orang tua asuh lain sehingga betul-betul kita kawal di 1000 hari pertama kehidupan,” tukasnya. (ils)


