spot_img
Selasa, Januari 27, 2026
spot_img
BerandaNTBKeracunan MBG Capai 150 Kasus, Praktisi Gizi Unram Ingatkan Dampak Jangka Panjang...

Keracunan MBG Capai 150 Kasus, Praktisi Gizi Unram Ingatkan Dampak Jangka Panjang bagi Siswa

Mataram (Suara NTB) – Berdasarkan data dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), keracunan akibat Makanan Bergizi Gratis (MBG) di NTB mencapai 150 kasus. Jumlah tersebut mendapat atensi dari  praktisi gizi.

Pasalnya, keracunan akibat makanan dapat menyebabkan penyakit serius hingga berpotensi menyebabkan kematian apabila tidak segera ditangani.

Praktisi Gizi asal Universitas Mataram (Unram), Dr. dr. Rifana Cholidah, M.Sc., pada Jumat, 26 September 2025 mengatakan, tubuh memiliki sistem alami untuk menangkal racun yang masuk.

Oleh karena itu, jika seseorang memakan makanan yang mengandung racun, maka tubuh secara otomatis akan bereaksi mual dan diare kemudian dikeluarkan melalui muntahan atau BAB. “Jadi kalau misalnya itu terjadi secara terus-menerus maka akan berpotensi terjadi dehiderasi,” jelasnya.

Gejala dehidrasi dapat menyebabkan tubuh kekurangan cairan. Apabila tubuh kekurangan cairan, lanjut Rifana, berpotensi menggagalkan proses metabolisme dalam tubuh.

“Jadi kalau dehidrasinya berat, lama-kelamaan itu bisa sampai meninggal. Terutama bagi anak-anak kecil,” ujarnya.

Rifana yang juga Wadek Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unram itu, menerangkan sejumlah faktor penyebab beberapa anak mengalami keracunan diduga setelah menyantap MBG.

Ia memperkirakan, terdapat sejumlah bahan tidak higienis, lalu air pencucian yang kurang bersih, dan pada saat proses pengolahan makanan. “Jadi bisa dari bahan mentah atau dari bahan pangannya yang terkontaminasi, kemudian dari air pencucinya, atau dari cara pengolahannya,” terangnya.

Rifana melanjutkan, jikapun dalam proses pemilihan bahan, pembersihan, atau pengolahannya baik, masih terdapat kemungkinan bakteri atau racun muncul ketika proses distribusi dari dapur ke sekolah.

“Misalnya makanannya itu tersedia di pukul 10.00 Wita, kemudian diantarkan ke sekolah dan sampai pukul 12.00 Wita, nah itu bisa terjadi pertumbuhan bakteri. Sehingga makanannya sampai di tujuan sudah basi,” tuturnya.

Kemudian faktor ketiga adalah pada saat proses penyajian makanan ke para siswa. Rifana menduga, ada proses yang tidak higienis pada saat pembagian paket MBG ke siswa.  “Misalnya yang membagikan itu tidak cuci tangan, atau ada bakteri di sendok atau sebagainya, nah itulah penyebab terjadinya keracunan,” tambahnya.

Dari sejumlah kasus keracunan akibat MBG yang terjadi, ia menyarankan pemerintah dan pemangku kebijakan untuk menyediakan supervisor yang akan melakukan kontroling terhadap pelaksanaan MBG.

Selain itu, ia juga menekankan agar proses monitoring dan evaluasi terhadap dapur MBG rutin dilakukan. Artinya, jika terdapat dapur yang kerap menyebabkan siswa keracunan, maka perlu dipertimbangkan keberlanjutan produksi makanan pada dapur tersebut.

“Bisa diberikan ke pemegang dapur yang lain yang terbukti dia higienis, yang terbukti makanannya sehat, kemudian proses pengolahannya bagus proses distribusinya bagus, dan proses penyajiannya juga terukur,” tandasnya. (sib)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO