Giri Menang (Suara NTB) -26 Santri dan Santriwati di wilayah Lembar, Lombok Barat (Lobar) diduga mengalami keracunan makanan, setelah mengonsumsi makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu, 24 september 2025. Insiden ini pun mendapatkan perhatian serius dari kalangan DPRD Lobar. Pihak dewan minta agar program MBG dievaluasi secara menyeluruh.
Anggota Komisi IV DPRD Lobar, Muhammad Munip mendesak pemerintah daerah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut. Dia menyatakan rasa prihatin mendalam atas apa yang dialami anak-anak tersebut. Menurutnya, insiden keracunan menjadi indikator adanya masalah serius dalam implementasi program yang seharusnya bertujuan mulia, yakni menjamin asupan gizi anak.
“Miris kita dengar anak-anak yang keracunan MBG ini, pemerintah harus mengevaluasi kegiatan ini,” tegas Muhammad Munip pada Kamis (25/9/2025).
Desakan evaluasi ini bertujuan untuk memastikan program MBG berjalan sesuai standar kesehatan tertinggi. Munip menekankan bahwa evaluasi bukan berarti menghentikan program, melainkan kesempatan untuk memperbaiki sistem agar kejadian serupa tidak terulang.
Munip menjelaskan bahwa perbaikan harus dimulai dari hulu hingga hilir, mencakup seluruh mata rantai penyediaan makanan. Dia menekankan pentingnya penetapan dan penegakan Standard Operating Procedure (SOP) yang ketat.
Menurut politisi dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu, pengawasan maksimal ini penting untuk mencegah adanya potensi kontaminasi atau kelalaian yang bisa berujung fatal pada kesehatan anak. Ini adalah jaminan kualitas yang mutlak harus dipenuhi oleh program yang menargetkan kelompok rentan.
Anggota Komisi IV DPRD Lobar ini menyoroti permasalahan kritis pada Sumber Daya Manusia (SDM) yang bertugas mengolah makanan. Meskipun program ini didukung oleh ahli gizi sebagai perencana dan pengawas, pemahaman teknis dari juru masak di lapangan seringkali belum memadai.
Ia melihat adanya ironi di mana program ini berhasil merekrut banyak tenaga kerja lokal, tetapi kelalaian dalam menjalankan SOP kebersihan dan sanitasi dapat terjadi. “Sangat ironi, di satu sisi memang dapat merekrut banyak tenaga untuk masak, tapi di sisi lain ketika tidak menjalani SOP dengan ketat maka pasti kecolongan juga,” imbuh pria asal Gunungsari itu.
Munip menutup komentarnya dengan menyinggung pentingnya koordinasi lintas sektoral yang selama ini dirasa minim. Program sebesar MBG seharusnya melibatkan berbagai pihak, terutama yang memiliki otoritas kesehatan dan pengawasan. Ia menyayangkan kenyataan di lapangan.
Kurangnya keterlibatan langsung dari instansi teknis seperti Dinas Kesehatan dianggap menjadi celah utama yang memungkinkan standar higienitas dan sanitasi terabaikan, yang akhirnya berujung pada insiden keracunan. Desakan ini menjadi alarm bagi Pemerintah Lobar untuk segera membenahi struktur manajemen dan pengawasan program MBG demi menjamin kesehatan dan keselamatan anak-anak di daerah tersebut.
Sementara itu, Plt. Kadis Kesehatan Hj. Erni Suryana mengatakan pihaknya sudah turun sidak ke lokasi Dapur tempat pengolahan makanan MBG tersebut. “Kami sudah turun sidak, semua tim kami bawa. Dan Sampel makanan sudah kami kirim ke BPPOM,” kata dia. Selain timnya, tim Polda juga turun cek lokasi ke Dapur MBG ini.
Terkait pengawasan MBG ini pihaknya pun akan membuat sistem agar bisa memantau makanan yang disajikan ke anak-anak. Sementara itu, Kepala UPT BLUD Puskesmas Jakem dr. Komang Arya Duarsa mengatakan santri dan santriwati yang diduga mengalami keracunan makanan sebanyak 26 orang. Para santri telah dipulangkan setelah mendapat penanganan di Puskesmas Jembatan Kembar (Jakem).
Belum diketahui pasti sumber keracunan para santri ini. Namun sampel makanan telah diambil pihak Puskesmas untuk diperiksa uji laboratorium. “26 orang (diduga alami keracunan makanan),” katanya Kamis, 25 September 2025.
Para santri dibawa ke Puskesmas bertahap, mulai pukul 9.30 Rabu pagi hingga pukul 20.00. Terakhir satu orang santri yang dibawa ke Puskesmas sekitar jam 20.00 malam. Santri dan santriwati yang diduga keracunan dibawa ke Puskesmas mulai sekitar pukul 9.30 Wita pagi, setelah mengonsumsi MBG. Mereka berasal dari salah satu Pondok Pasantren di wilayah Lembar. “Gejalanya kebanyakan nyeri perut atau mual dan sakit kepala,” ujarnya.
Penanganan medis pun sudah dilakukan dengan cepat terhadap para santri santriwati tersebut. Setelah dilakukan penanganan di Puskesmas, kondisi mereka pun membaik sehingga mereka dibolehkan pulang. “Sudah dipulangkan semua dengan kondisi membaik, dan mereka juga diberikan KIE kalau timbul keluhan lagi boleh kembali ke Puskesmas,”ujarnya.
Ditanya penyebab mereka mengalami gejala itu, pihaknya belum bisa memastikan. Sebab perlu dilakukan pengecekan atau pemeriksaan laboratorium terhadap makanan yang dikonsumsi. (her)


