Kota Bima (Suara NTB) – Ratusan siswa SMAN 4 Kota Bima tampak antusias mengikuti workshop literasi media dan berpikir kritis di era kecerdasan buatan (AI), Rabu (15/10/2025). Kegiatan ini menjadi ajang penting bagi generasi muda untuk belajar mengenali informasi palsu sekaligus memanfaatkan teknologi digital secara bijak.
Kepala SMAN 4 Kota Bima, Imran, S.Pd., M.M., menyebut kegiatan tersebut sejalan dengan semangat sekolah dalam menguatkan Gerakan Semesta Literasi yang telah berjalan selama dua tahun terakhir. “Tahun pertama ada 83 anggota, dan sekarang sudah 93. Ini yang tertinggi di NTB,” jelasnya.
Imran menilai, tanpa literasi mustahil bangsa ini bisa maju. Karena itu, sekolah terus mendorong siswa untuk aktif berpikir kritis dan berani memverifikasi setiap informasi yang mereka temui.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) wilayah Bali-Nusra, yang berbagi wawasan seputar literasi digital, cara mengenali hoaks, serta pemanfaatan AI untuk hal-hal positif. EVP Head of Circle Java IOH, Fahd Yudhanegoro, melalui Director and Chief Commercial Officer Indosat Ooredoo Hutchison wilayah Bali Nusra, Bilal Kazmi, menjelaskan, SMAN 4 Kota Bima dipilih karena dinilai aktif mengembangkan budaya literasi di sekolah.
“Sekolah ini jadi yang pertama di NTB, dan ke depan kami akan melaksanakan kegiatan serupa di sekolah lain,” katanya.
Asisten III Sekda Kota Bima, Drs. H. Muhammad Saleh, yang turut hadir, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai literasi media dan berpikir kritis sangat dibutuhkan di era digitalisasi yang kian pesat. “Manfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan kapasitas intelektual dan kemampuan memahami teknologi yang berkembang cepat,” pesannya.
Ia juga mengingatkan pentingnya etika bermedia sosial. “Jangan sampai jari menjadi harimau. Gunakanlah jarimu untuk hal-hal positif,” tegasnya.
Salah seorang peserta, Alievca Pedro Al Afghan, siswa kelas XII-3, mengaku senang dengan kegiatan semacam ini. Ia merasa mendapatkan banyak pengetahuan baru dari pelatihan tersebut. “Kegiatan ini tidak akan kami dapat di tempat lain. Saya jadi tahu cara menghindari informasi hoaks dan menggunakan internet dengan lebih bijak,” ungkapnya.
Di akhir kegiatan, Muhammad Saleh menegaskan bahwa workshop literasi media ini bukan sekadar ajang pelatihan, melainkan ruang belajar bersama tentang bagaimana generasi muda bisa menjadi garda terdepan dalam melawan hoaks. (hir)


