Bima (Suara NTB) – Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur wilayah Kabupaten Bima selama dua hari berturut-turut memicu banjir di sejumlah kecamatan. Setelah Rabu, 5 November 2025 wilayah Madapangga terendam, Kamis, 6 November 2025 banjir kembali terjadi di kecamatan yang sama, serta meluas hingga ke Kecamatan Sanggar.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima, Isyra, mengatakan hujan intensitas sedang hingga lebat mengguyur sejak Kamis siang sekitar pukul 12.10 Wita dan berlangsung hingga pukul 15.10 Wita. Kondisi ini membuat drainase di beberapa desa tidak mampu menampung debit air yang datang dari pegunungan.
Di Kecamatan Sanggar, banjir melanda tiga desa yakni Boro, Kore, dan Sandue. Air setinggi 20 hingga 50 sentimeter menggenangi permukiman, jalan raya, dan lahan pertanian warga. Di Desa Boro, empat rumah warga di Dusun Benteng RT 06 RW 03 terendam, satu pagar rumah roboh, dan jalan lintas Tambora sempat lumpuh karena genangan air. “Banjir di Boro selalu terjadi setiap hujan deras karena drainase tidak memadai dan banyak sampah yang menyumbat aliran air,” jelas Isyra, Jumat (7/11/2025).
Sementara itu, kondisi serupa juga dialami warga di Desa Kore. Air setinggi 50 sentimeter merusak satu jembatan darurat yang masih dalam tahap pengerjaan, serta menggenangi permukiman dan jalan lintas Tambora. Akibatnya, aktivitas warga dan arus kendaraan sempat terganggu sebelum air berangsur surut. Di Desa Sandue, air meluap dari saluran pembuangan dan menutup akses jalan lingkungan.
“Masyarakat kini fokus membersihkan lumpur. Tidak ada korban jiwa maupun pengungsian. Pendataan lahan dan infrastruktur yang rusak masih kami lakukan,” ujar Isyra.
Tidak hanya di Sanggar, banjir juga kembali melanda Kecamatan Madapangga sehari setelah kejadian sebelumnya. Luapan air dari pegunungan menyebabkan empat desa terdampak cukup serius, yakni Monggo, Ncandi, Dena, dan Bolo.
Di Desa Monggo, sebanyak 580 rumah warga terendam air setinggi 30 hingga 120 sentimeter. Sekitar 1.798 jiwa terdampak, termasuk tiga fasilitas pendidikan (SDN Monggo, TK Pembina, dan MIS Yasin Monggo) serta satu musala (Al Ikhlas). Satu hektare lahan jagung juga ikut terendam.
“Kondisi di Monggo cukup parah karena debit air tinggi. Namun berkat gotong royong warga dan aparat, air sudah berangsur surut,” jelas Isyra.
Adapun di Desa Ncandi, air merendam 28 rumah warga, kantor desa, dan dua sekolah. Jembatan penghubung antara Desa Ncandi dan Dena tergenang sehingga kendaraan tidak bisa melintas. Sedangkan di Desa Dena, 35 rumah warga terendam dengan ketinggian air mencapai 120 sentimeter. Sebuah penggilingan padi di RT 08 juga ikut terendam.
Selain banjir, bencana juga disertai pohon tumbang di jalur lintas Sumbawa–Bima, tepat di depan perusahaan jagung CPI Desa Bolo. Pohon besar tersebut menutup jalan utama hingga arus kendaraan macet total. “Warga dan aparat setempat langsung mengevakuasi pohon menggunakan mesin senso sehingga arus lalu lintas kembali lancar,” tutur Isyra.
Menanggapi kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Bima segera menurunkan tim ke lapangan untuk melakukan pengamatan, pendataan, dan kaji cepat. Koordinasi juga dilakukan dengan camat, TNI, Polri, dan perangkat desa untuk memastikan kebutuhan tanggap darurat terpenuhi.
Lebih lanjut, ia mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi lainnya. “Cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi, jadi kami imbau warga agar segera melapor ke BPBD, camat, atau aparat desa jika ada tanda-tanda bahaya,” pesannya
Hingga Kamis malam (6/11) pukul 20.30 Wita, BPBD memastikan tidak ada korban jiwa akibat bencana tersebut. Namun pendataan terhadap lahan pertanian, fasilitas umum, dan infrastruktur yang rusak masih terus dilakukan. “Kami terus memantau perkembangan di lapangan. Semua pihak harus siaga karena musim hujan baru saja mulai,” tutup Isyra. (hir)



