TIDAK banyak yang tahu, bahwa dari tanah Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), lahir seorang tokoh besar yang kiprah perjuangannya sejajar dengan para pendiri bangsa. Dialah Sultan Muhammad Salahuddin, Sultan ke-38 Kerajaan Bima dan Sultan ke-14 Kesultanan Bima. Kini ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Penetapan ini menjadi momentum bersejarah bagi masyarakat Bima dan NTB. Setelah perjuangan panjang, nama Sultan Muhammad Salahuddin akhirnya mendapatkan pengakuan negara. Jasa dan dedikasinya yang luar biasa dalam memperjuangkan kemerdekaan dan membangun peradaban bangsa diakui.
Kepala Museum Samparaja Bima, Dewi Ratna Muchlisa, yang juga cucu Sultan Muhammad Salahuddin mengatakan bahwa penetapan gelar ini bukan hanya kebanggaan keluarga. Namun, ini juga merupakan kehormatan untuk seluruh masyarakat Bima.
“Sultan Muhammad Salahuddin adalah sosok pemimpin yang cinta tanah air, berwawasan luas, dan mendahului zamannya. Perjuangan beliau untuk NKRI sangat nyata, bukan hanya dalam bentuk kata. Tapi tindakan dan kebijakan nyata,” ujarnya kepada Suara NTB, Minggu (9/11/2025).
Sultan Muhammad Salahuddin dikenal sebagai salah satu raja pertama di Indonesia yang secara terbuka menyatakan dukungan kepada Republik Indonesia yang baru berdiri. Pada 22 November 1945, ia mengeluarkan Maklumat Kerajaan Bima. Hal ini menegaskan bahwa Bima adalah daerah istimewa yang berdiri di belakang Pemerintah Republik Indonesia.
Langkah itu menunjukkan keberanian besar di tengah situasi politik yang belum stabil pasca-kemerdekaan. Presiden RI, Soekarno bahkan secara khusus datang ke Bima pada 13 November 1950. Dia menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas kesetiaan Sultan dan rakyat Bima terhadap Republik Indonesia.
“Berdasarkan catatan sejarah, Presiden Soekarno dalam kunjungannya mengatakan, kami datang untuk menyampaikan penghargaan. Ini untuk Sultan Muhammad Salahuddin dan rakyat Bima yang setia kepada Republik Indonesia,’’ tutur Dewi Ratna Muchlisa.
Sultan Muhammad Salahuddin Dikenang karena Kebijakan “Nika Baronta”
Sultan Muhammad Salahuddin juga dikenang karena kebijakan “Nika Baronta” atau kawin berontak pada masa pendudukan Jepang. Saat itu, ia memerintahkan agar para gadis Bima segera dinikahkan untuk menghindari ancaman dijadikan Jugun Ianfu.
“Kebijakan tersebut berhasil menyelamatkan ribuan perempuan Bima dari kekejaman tentara Jepang. Bima menjadi satu-satunya daerah di Nusantara dan bahkan Asia tanpa perempuan yang dijadikan budak seks pada masa itu,” sebutnya.
Selain itu, Sultan juga memperjuangkan pendidikan perempuan. Ia mendirikan Sekolah Kejuruan Wanita (Kopschool) di Raba pada tahun 1922. Sultan juga mendorong lahirnya organisasi perempuan seperti Aisyiyah dan Rukun Wanita.
‘’Dalam bidang pendidikan, Sultan Muhammad Salahuddin dikenal sangat visioner. Ia mendirikan puluhan sekolah di berbagai penjuru Bima, termasuk Sekolah Agama Darul Ulum. Ia juga memberi beasiswa kepada rakyatnya untuk menuntut ilmu ke Makkah, Madinah, Makassar, dan Yogyakarta. Sultan bahkan membeli rumah di Makkah untuk dijadikan asrama bagi pelajar dan jamaah haji asal Bima,” ujarnya.
Warisan intelektualnya masih bisa ditemukan di Museum Samparaja, berupa kitab-kitab dan naskah khutbah Jumat yang ditulis langsung oleh tangan beliau. Salah satu karya pentingnya adalah Kitab Nurul Mubin, yang diterbitkan pada 1932.
Pemimpin yang Menjunjung Tinggi Nilai Toleransi
Sultan Muhammad Salahuddin juga dikenal sebagai pemimpin yang menjunjung tinggi nilai toleransi. “Ia memberikan tanah kesultanan untuk pembangunan gereja di Raba dan mengajarkan rakyatnya untuk saling menghormati perbedaan keyakinan. Wilayah Donggo, yang dikenal sebagai daerah multikepercayaan, hingga kini menjadi simbol harmoni yang diwariskan dari masa kepemimpinannya,” ujar Dewi.
Selain itu, dikatakan juga, ia mendukung berdirinya organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) di Bima pada tahun 1936 bersama Syekh Hasan Syekh Ab dari Batavia. Dia sekaligus menjadi ketua pertamanya di Bima.
Ketika wafat di Jakarta pada 14 Juli 1951, Presiden Soekarno memberikan penghormatan kenegaraan kepada Sultan Muhammad Salahuddin. Jenazahnya disemayamkan di Gedung Proklamasi Pegangsaan Timur 56, tempat bersejarah pembacaan Teks Proklamasi. Presiden Soekarno bahkan menyebutnya sebagai “pahlawan sejati dari Timur Nusantara.”
“Sultan kemudian dimakamkan di TPU Karet Bivak Jakarta. Ia diberi status khusus dan dibebaskan dari pajak makam untuk selamanya. Ia diizinkan memiliki ornamen atap khas kerajaan, sebuah kehormatan yang tak diberikan kepada sembarang tokoh,” tutur Dewi.
Kini, setelah lebih dari tujuh dekade, pengakuan negara datang juga. Sosok Sultan Muhammad Salahuddin bukan sekadar bagian dari sejarah Bima, tapi bagian dari sejarah besar Indonesia.
“Beliau bukan hanya milik Bima, tapi milik seluruh bangsa. Semangat nasionalismenya menjadi teladan abadi bagi generasi muda Indonesia,” tutup Dewi. (hir)


