spot_img
Kamis, Februari 19, 2026
spot_img
BerandaNTBDOMPUDompu Tetapkan Tanggap Darurat Bencana Alam

Dompu Tetapkan Tanggap Darurat Bencana Alam

Dompu (Suara NTB) – Pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Dompu telah menetapkan status tanggap darurat bencana banjir, tanah longsor, dan angin putting beliung. Status ini menyusul bencana banjir yang melanda Kabupaten Dompu dalam beberapa hari terakhir.

“Status tanggap darurat bencana banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung ini berlaku selama 10 hari sejak 10 November 2022,” kata Plt. Kepala BPBD Kabupaten Dompu, H. Wan Muhtajun, ST., Kamis, 13 November 2025.

Dalam masa tanggap darurat ini difokuskan untuk penyelamatan dan evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasarnya, perlindungan kelompok rentan, dan perbaikan dengan segera terhadap sarana dan prasarana vital yang rusak, dan kegiatan lain yang diperlukan untuk pengendalian ancaman bencana.

“Dengan status ini, kita bisa dibantu melalui dana tanggap darurat Kabupaten, Provinsi NTB hingga Dana Siap Pakai (DSP) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI,” kata H. Wan Muhtajun.

Bencana banjir, dan tanah longsor di Dompu hampir tiap hari terjadi. Kondisi ini disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi dan lama, sehingga air tidak tertampung oleh aliran sungai yang ada. Ditambah oleh kerusakan hutan dan sumbatan pada saluran. “Terakhir banjir terjadi di Desa Songgajah dan Desa Tolokalo Kecamatan Kempo pada Rabu, 12 November 2025 ,” katanya.

Banjir ini menyebabkan sekitar 150 KK di Desa Tolokalo dan 80 KK di Desa Songgajah terendam banjir dengan arus air yang kencang setinggi hingga 1,5 meter. “Tidak ada kerusakan, hanya perumahan warga yang terendam air banjir,” katanya.

Kepala Desa Tolokalo Kecamatan Kempo, Sukardin yang dihubungi terpisah mengaku, banjir di Desa Tolokalo dan Songgajah sudah menjadi langganan Ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi di hulu Sungai Doro Na’e Kempo. “Ketika hujan deras, pasti akan datang banjir dan warga kita sudah terbiasa menghadapi ini,” katanya.

Banjir di dua desa ini akibat tidak ada sungai yang menampung aliran air dari pegunungan Doro Na’e Kempo. Wilayah Tolokalo berada di dataran rendah, sehingga dialiri air ketika hujan deras. Sementara sungai Kesi yang ada di sebelah barat perkampungan warga dan Sungai Songgajah di sebelah timur, posisinya lebih tinggi dan sering meluap.

“Kita usulkan agar dibuatkan sungai buatan untuk mengalirkan air, sehingga tidak menggenangi pemukiman warga. Itu juga kita sampaikan pada Dirjen BNPB RI (Brigjen MS Ismed selaku tenaga ahli) yang turun tinjau tadi malam,” kata Sukardin. (ula)

IKLAN

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO