Mataram (Suara NTB) – Warga Lingkungan Bugis dan Pondok Perasi, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, terus hidup dalam kecemasan akibat cuaca ekstrem yang memicu gelombang pasang dan abrasi setiap tahun. Tanpa adanya perlindungan memadai, mereka hanya bisa berharap pemerintah segera membangun tanggul permanen atau pemecah gelombang sebagai solusi jangka panjang.
Ahmad Munir, warga Lingkungan Bugis, mengaku abrasi yang terjadi setiap tahun membuatnya khawatir. Terlebih sejak gelombang pasang pada awal Januari 2025 merusak sejumlah rumah warga, baik ringan maupun berat. Beberapa pekan lalu, peristiwa serupa kembali terjadi dan memperburuk kondisi pesisir.
“Setiap memasuki akhir dan awal tahun, gelombang pasang sudah mulai. Kami selalu was-was,” ujarnya saat ditemui di depan rumahnya, Jumat (14/11/2025).
Menurut Munir, kondisi yang terjadi beberapa pekan lalu belum seberapa dibanding puncak gelombang pasang yang biasanya datang pada akhir Desember hingga awal tahun, yakni Januari–Februari.
Munir yang tinggal hanya sekitar dua meter dari bibir pantai mengaku mulai semakin cemas. Ia mengatakan, keberadaan tumpukan batu boulder menjadi pertahanan terakhir agar rumahnya tidak tersapu ombak. “Untung ada batu-batu ini. Kalau tidak, rumah saya sudah habis,” katanya.
Pemasangan batu boulder dan geobag yang dilakukan pemerintah menjadi langkah darurat untuk memperlambat laju abrasi. Namun, Munir menilai solusi itu tidak bisa bertahan lama.
“Pemasangan batu sudah dua kali dilakukan. Tapi lama-lama batunya turun tertimbun pasir. Tidak kuat menahan gelombang besar,” ungkapnya.
Sebagai nelayan, Munir juga menghadapi persoalan lain. Bibir pantai yang kini habis terkikis membuatnya tidak lagi memiliki tempat untuk menambatkan perahu. Ia dan nelayan lain harus menempuh jarak cukup jauh ke kawasan Senggigi. “Mau tidak mau harus ke sana daripada perahu rusak. Perahu kami harganya puluhan juta,” katanya.
Di lokasi berbeda, Mukhlis, warga Lingkungan Pondok Perasi, turut menyampaikan kekhawatiran yang sama. Meski dampaknya tidak separah di Lingkungan Bugis, ia menyebut pergantian musim kerap dibarengi banjir rob akibat gelombang pasang.
“Sebagian warga biasanya membuat tanggul karung berisi pasir di depan pintu supaya air tidak masuk ke rumah,” jelasnya.
Mukhlis berharap pemerintah segera membangun tanggul atau pemecah gelombang permanen agar ancaman abrasi tidak terus berulang setiap tahun.
Anggaran Besar, Perlu Dukungan Pusat
Lurah Bintaro, Rudy Herambang, mengatakan pemerintah kelurahan tidak memiliki kewenangan pembangunan fisik berskala besar seperti tanggul laut, karena membutuhkan biaya besar. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Mataram yang saat ini sedang mengajukan permohonan bantuan ke Kementerian PUPR.
“Yang bisa kami lakukan hanya mengimbau warga agar tetap waspada dan melakukan penanganan ketika terjadi banjir rob,” ujarnya.
Rudy bersyukur pemasangan batu boulder oleh Dinas PUPR dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I telah dilakukan sebelum gelombang pasang terakhir terjadi. “Alhamdulillah batu itu sudah dipasang, sehingga sedikit banyak mengurangi hantaman gelombang besar,” pungkasnya. (pan)



