Sumbawa Besar (suarantb.com) – Sering dengar madu Sumbawa?. Ya, salah satu sumbernya adalah di Desa Pelat, Kecamatan Unter Iwes, Kabupaten Sumbawa. Desa ini dikenal sebagai pusat pembelajaran madu hutan dan perlebahan.
Potensi madu dari lebah Trigona dan Apis Dorsata menjadikan desa ini sebagai salah satu sentra unggulan dalam pengembangan madu hutan alami di Nusa Tenggara Barat.
Mengutip laporan Kementerian Kehutanan RI, Desa Pelat ditetapkan sebagai sentra pengembangan dan pembelajaran lebah Trigona.
Desa ini bahkan bekerja sama dengan Desa Batudulang untuk memperkuat kapasitas petani madu serta menjaga keberlanjutan ekosistem hutan Batulanteh yang menjadi habitat utama lebah penghasil madu.
Produksi madu di Desa Pelat cukup menjanjikan. Jenis lebah Apis Dorsata, yang dikenal masyarakat Sumbawa sebagai lebah aning, mampu menghasilkan madu dalam delapan bulan masa panen setiap tahun.
Hanya pada periode Desember hingga Maret, aktivitas panen berkurang akibat perubahan musim.
Sementara itu, lebah Trigona, menjadi fokus utama pengembangan karena madu yang dihasilkannya memiliki nilai ekonomi tinggi dan mudah dibudidayakan.
Selain dikenal sebagai desa madu, Pelat juga memiliki potensi pertanian lahan kering yang besar. Sebagian besar warga memanfaatkan lahan tegalan dan sawah untuk menanam tanaman pangan seperti jagung dan padi.
Sistem pertanian tradisional yang berpadu dengan kearifan lokal menjadikan desa ini mandiri dalam sektor pangan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Pemprov NTB terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sektor-sektor potensial daerah, seperti pertanian, kelautan, pariwisata, dan sejumlah sektor lainnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi NTB, Dr.Ir.H. Iswandi, M.Si mengatakan, setiap sektor memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Termasuk pada skala desa.
Dalam RPJMD pemerintah daerah telah menetapkan arah pemgembangan sektor-sektor potensial melalui program unggulan Agromaritim; yang fokusnya untuk membentuk eko sistem industri Agromaritim dari hulu ke hilir. Dukungan diprioritaskan untuk menguatkan swasemenda pangan serta hilirisasi dan industri pengolahan.
“Sektor-sektor potensial tetap menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat kita. Pemerintah terus memberikan dukungan, misal pada sektor pertanian, seperti mulai dari penyediaan benih unggul, pupuk, hingga fasilitasi pemasaran hasil panen,” ujarnya.
Langkah ini, lanjut Iswandi, sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan dan berbasis potensi lokal.
“Masing-masing daerah, tentu memiliki potensi pada sektor yang berbeda-beda. Itu yang akan kita upayakan untuk terus dikembangkan,” ujarnya.
Selain pertanian, sektor kelautan juga menjadi fokus. Termasuk pariwisata. Menjadi program unggulan NTB Pariwisata Berkualitas yang arah pengembangannya diintegrasikan dengan pariwisata Bali dan NTT.
“Semua sektor ini saling terkait. Jika kita kuatkan bersama, maka dampaknya akan luas, bukan hanya bagi ekonomi daerah, tapi juga kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa terus memperkuat langkah pembangunan daerah dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang beragam. Sektor-sektor seperti pertanian, kelautan, peternakan, dan perkebunan menjadi fokus utama pengembangan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedi Heriwibowo menjelaskan, Sumbawa memiliki dua kelompok besar sumber daya alam, yaitu sumber daya tidak terbarukan seperti tambang dan mineral, serta sumber daya terbarukan seperti pertanian dan kelautan.
Pemerintah daerah, lanjut Dedi, terus berupaya mengarahkan transformasi ekonomi menuju sektor yang bersifat berkelanjutan.
“Sektor pertanian dan kelautan disebut sebagai pilar utama, karena keduanya mampu menopang kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang,” kata Dedi, Senin 3 November 2025.
Selain itu, sektor perkebunan juga tumbuh pesat. Kopi Sumbawa menyumbang lebih dari 42 persen produksi kopi NTB, sedangkan komoditas bawang merah terus meningkat dengan kontribusi 13,83 persen.
Melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), pemerintah daerah mendorong penguatan agrobisnis dan agroindustri untuk menciptakan nilai tambah produk lokal.
“Hasil pertanian dan kelautan perlu diolah langsung di daerah. Gabah harus menjadi beras kemasan, jagung diarahkan menjadi bahan industri pakan, dan udang serta rumput laut harus diolah sebelum diekspor,” jelas Dedi.
Langkah ini sejalan dengan strategi pemerintah daerah untuk membuka peluang investasi industri kecil, menengah, hingga besar. Upaya tersebut diharapkan mampu memperluas lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (r)



