Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Kota Mataram telah mengajukan proposal pembangunan peninggian talud dan pemasangan bronjong di Sungai Ancar dan Sungai Unus kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I. Pekerjaan tersebut dipastikan mulai dikerjakan pada 2026 dengan alokasi anggaran sebesar Rp25 miliar.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram, Lale Widiahening, mengatakan pihaknya menerima kabar baik dari BWS Nusa Tenggara I bahwa pembangunan talud di dua sungai tersebut akan direalisasikan pada 2026. Total anggaran yang disiapkan mencapai Rp25 miliar.
“Kalau tidak salah, akan ada dana untuk bronjong dan talud. Masing-masing dialokasikan Rp15 miliar untuk Sungai Ancar dan Rp10 miliar untuk Sungai Unus,” ujarnya, Senin, 17 Januari 2025.
Ia menambahkan, pembangunan talud dan pemasangan bronjong yang belum dapat diintervensi Pemkot Mataram pada 2025 akan dilanjutkan oleh BWS pada 2026.
Kerusakan talud tersebut, kata Lale, disebabkan oleh bencana alam berupa banjir dan gempa bumi yang terjadi pada 2018. “Untuk talud, kami sudah petakan mana saja yang rusak parah saat gempa. Insya Allah pembangunan ini sudah pasti terlaksana pada 2026,” ungkapnya.
Terkait normalisasi sungai yang mengalami pendangkalan di Sungai Ancar dan Sungai Unus, Lale menjelaskan bahwa pihaknya telah menyampaikan permohonan tersebut baik secara lisan maupun tertulis. Menurutnya, BWS juga telah mengetahui kondisi pendangkalan di dua sungai tersebut.
Sementara itu, menanggapi keluhan warga terkait pendangkalan sungai yang tak kunjung dinormalisasi, Lale menilai persoalannya bukan hanya sedimentasi. Penyempitan ruang sungai akibat bangunan yang didirikan di sempadan sungai turut memicu penyumbatan.
“Pemerintah sudah berupaya semaksimal mungkin mencegah bangunan liar di bantaran sungai. Namun setiap penertiban selalu ada penolakan. Jadi tetap seperti itu,” jelasnya.
Selain kondisi sungai, Lale juga mengungkapkan adanya masalah drainase yang tertutup plat beton oleh masyarakat untuk dijadikan akses atau fasilitas tambahan. Penutupan drainase tersebut menghambat aliran air dan berpotensi menyebabkan genangan hingga banjir lokal di beberapa wilayah kota. “Ada derinase yang tersubata, itu akibat plat yang banyak di lingkungan,” pungkasnya.
Dengan adanya kepastian anggaran dan jadwal pelaksanaan pada 2026, Pemkot Mataram berharap pembangunan talud dan bronjong ini menjadi solusi struktural yang dapat mengurangi risiko banjir di kawasan padat penduduk sekitar Sungai Ancar dan Sungai Unus.(pan)



