Selong (Suara NTB) – Kabupaten Lombok Timur (Lotim) bersiap melakukan ekspor perdana komoditas non-migas, berupa tepung porang, ke Tiongkok yang ditargetkan berlangsung pada April mendatang. Langkah ini menjadi terobosan signifikan bagi sektor industri dan perdagangan daerah.
Hal ini disampaikan oleh Kabid Kerjasama, Pengawasan dan Promosi Investasi Industri pada Dinas Perindustrian Lotim Muhammad Irwan Agus, menjawab Suara NTB pekan kemarin. Ia menegaskan kesiapan tersebut didukung oleh kesepakatan yang telah dijalin dengan pembeli dari Tiongkok.
“Sudah banyak MoU dengan agen porang. Target April bisa ekspor non migas ke Tiongkok. Rekanan langsung sebagai eksportirnya, dari Lombok langsung ke Tiongkok. Teknis mereka yang mengatur,” ujarnya.
Meski pabrik pengolahan porang milik PT Sanindo Porang Rinjani saat ini belum beroperasi penuh, pihaknya yakin target ekspor dapat terpenuhi. Menunggu musim panen raya yang diperkirakan dimulai pada Januari hingga Februari mendatang, pabrik siap mengolah bahan baku. “Menunggu musim panen. Sementara tidak digunakan, tapi kami yakin bisa produksi,” tambahnya.
Dijelaskannya, pabrik porang di Lotim memiliki kapasitas pengolahan hingga 80 ton bahan baku basah per hari. Dari jumlah tersebut, dapat dihasilkan sekitar 8 ton chip (irisan kering) yang selanjutnya akan diolah menjadi 4 ton tepung porang murni.
“Pabrik ini merupakan satu-satunya di Indonesia yang produksinya sampai ke tahap tepung. Semua mesin produksi sudah berjalan bagus dan diakui pihak buyer dari Tiongkok,” papar Irwan.
Untuk mendukung pasokan bahan baku, Pemerintah Kabupaten Lotim telah menggalang sinergi. Saat ini, terdapat sekitar 213 hektare lahan porang yang dikelola petani tergabung dalam P3N (Perhimpunan Petani Pemakai Nikmat). Daerah lain seperti Bima dan Kabupaten Lombok Utara (KLU) juga telah siap menyuplai.
“Estimasi produksi, role material 80 persen dari Lotim. Kerja sama dengan Lapas Selong juga direncanakan untuk pengembangan 5-10 hektare lahan,” jelasnya.
Bupati Lotim, H. Haerul Warisin disebutkan telah secara aktif mengajak seluruh daerah untuk berpartisipasi dalam pengembangan komoditas porang ini.
Dari segi nilai ekonomi, tepung porang memiliki harga jual yang cukup tinggi, mencapai Rp 200.000 per kilogram di pasar ekspor. Sementara harga bahan baku basah untuk petani dibanderol sekitar Rp 14.000 per kilogram.
Meski demikian, target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari kegiatan ekspor ini belum dapat diprediksi secara pasti, karena menggunakan sistem bagi hasil dengan perusahaan pengelola, PT Sanindo Porang Rinjani. Jumlah ekspor akan sangat bergantung pada total hasil panen yang diperoleh petani. (rus)


