spot_img
Senin, Februari 16, 2026
spot_img
BerandaNTBSUMBAWASumbawa Masih Belum Swasembada Telur dan Daging Ayam

Sumbawa Masih Belum Swasembada Telur dan Daging Ayam

Sumbawa Besar (suarantb.com) – Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Sumbawa mengaku kebutuhan telur dan daging ayam masih bergantung ke luar daerah terutama Pulau Lombok dan Bali yang mengakibatkan dua komoditas itu menjadi penyumbang inflasi.

“Telur sama daging ayam kita belum swasembada karena masih bergantung ke luar daerah. Meski demikian, kondisi ketahanan pangan kita masih aman hingga beberapa tahun kedepan,” Kata Sekretaris DKP, Syaihudddin kepada Suara NTB, Jumat (21/11/2025).

Ia melanjutkan, selain dua komoditi tersebut kebutuhan gula merah dan kedelai masih sangat bergantung dari luar daerah. Sehingga untuk komoditi tersebut masuk dalam kategori ketahanan rendah dan sangat berpotensi terjadi inflasi jika pasokan ke daerah terbatas.

“Jadi, para pengusaha kita ini belum berani menyetok banyak untuk komoditi tersebut karena dikhawatirkan rusak dan harga yang selalu berubah,” ucapnya.

Disinggung terkait kondisi ketahanan pangan untuk komoditi beras, Syaihu mengaku masih aman hingga 20 bulan kedepan. Hal itu terjadi karena masyarakat rata-rata sudah terbiasa menyisakan pangan khususnya beras setiap musim panen.

“Kalau untuk beras kita sangat aman, karena masyarakat sudan terbiasa menyimpan cadangan pangannya sendiri setiap musim panen untuk menekan terjadinya hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Bahkan ketika pelaksanaan gerakan pangan murah (GPM) khusus untuk beras tidak cukup laku di hampir seluruh titik GPM digelar. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi pangan khususnya beras masih sangat aman termasuk di wilayah Selatan (Orong Telu) untuk beras cenderung tidak laku.

“Ketahanan pangan khususnya beras kita masih sangat aman. Hanya untuk komoditi tertentu saja yang sedikit menjadi kekhawatiran karena berpotensi menimbulkan inflasi,” imbuhnya.

Ia menambahkan, pemerintah juga akan segera menyalurkan Bapang CBP dalam bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran penerima bantuan pangan. Selain itu, bantuan itu juga dilakukan untuk menanggulangi kekurangan pangan, gizi dan mengendalikan gejolak harga pangan.

“Penyaluran Bapang sebagai upaya memitigasi dampak bencana yang menyebabkan kekeringan dan kerawanan pangan baik penduduk miskin maupun penduduk rentan miskin,” tambahnya. (ils)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO