Mataram (suarantb.com) – Kerja sama Regional Bali, NTB dan NTT (KR-BNN) yang ditandatangani di Sirkuit Mandalika pada Selasa, 25 November 2025 lalu akan menyentuh sejumlah sektor. Satu di antaranya sektor pariwisata, dalam hal ini sebagai daerah pariwisata, Bali, NTB dan NTT berencana mengembangkan bersama pariwisata bersama.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) NTB, Ahmad Nur Aulia. Ia mengatakan, untuk tahap pertama, ketiga provinsi berencana untuk mendorong integrasi pariwisata, yaitu dengan menghubungkan pola perjalanan pariwisata terintegrasi.
“Kita bisa menjadi salah satu destinasi pilihan dari paket-paket wisata yang ditawarkan oleh para pelaku industri pariwisata,” ujarnya, Kamis, 26 November 2025.
Selain menyusun pola pariwisata terintegrasi, Dispar NTB bersama dengan Dispar Bali dan NTT akan membuat branding pariwisata yang bisa mewadahi ketiga provinsi. Saat ini, proses branding tersebut masih dalam penyusunan. Termasuk juga dengan melakukan promosi pariwisata bersama.
Setiap provinsi, katanya memiliki keunggulan masing-masing. Dengan daya tarik setiap daerah, wisatawan tidak hanya menikmati satu jenis pariwisata, tetapi lebih dengan adanya integrasi pola perjalanan wisata tersebut. Misalnya saja, di Mandalika, wisatawan dapat menikmati sport tourism melalui MotoGP Mandalika.
NTB akan Masukkan Surfing dalam ‘’Calender of Event’’
NTB sudah melaksanakan 58 kalender of event tahun 2025. Saat ini, daerah tengah menyusun calender of event tahun 2026. Salah satu agenda baru yang tengah dipertimbangkan adalah event selancar berskala internasional. Aulia menilai, kegiatan ini berpotensi menjadi magnet wisata baru NTB. “Ya mudah-mudahan surfing bergengsi akan hadir di sini,’’ ujarnya.
Rencananya, kegiatan surfing akan dilakukan di daerah-daerah yang memiliki pantai dengan ombak yang cocok untuk digunakan surfing. Seperti Lombok Tengah, Sumbawa, Lombok Timur, dan beberapa daerah lainnya.“Kita punya banyak sekali daerah dengan titik surfing,” ucapnya.
Menyinggung soal jumlah event tahun depan, ia menegaskan kalender 2026 tidak dinilai dari banyaknya agenda, tetapi kualitasnya. “Kalau saya sih tidak dinilai dari kuantitinya, tapi harapkan kualitas,” tegasnya.
Ia menyebut setiap event harus memenuhi kriteria tertentu, salah satunya tujuan penyelenggaraan. Misalnya untuk meningkatkan awareness, motivasi, hingga menjaga minat wisatawan agar kembali berkunjung atau repeater guest.
“Kalau event itu sebenarnya mereka akan datang lagi. Itu bisa menarik. Pokoknya ada MotoGP di sana, kita balik lagi. Itu level tertinggi dari sebuah event,” jelasnya.
Perjuangkan Harga Tiket Murah
Dalam penandatangan kerja sama Regional Bali, NTB dan NTT (KR-BNN) yang ditandatangani di Sirkuit Mandalika pada Selasa, 25 November 2025 lalu, ada sejumlah isu strategis yang dibahas. Salah satunya, tiga Gubernur, yaitu Bali, NTB dan NTT menyepakati untuk memperjuangkan tiket pesawat murah dalam mendukung konektivitas transportasi dan pariwisata ke wilayah masing-masing.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Kerja Sama Regional Bali, NTB, dan NTT (KRBNN) adalah bagaimana konektivitas transportasi (darat, udara, dan laut) dan pariwisata di tiga provinsi saling terhubung dan murah.
“Tiga provinsi segera mengidentifikasi konektivitas baru yang segera akan dibangun antardestinasi wisata baik darat, udara maupun laut. Itu sebabnya kami hadir (MoU) kerja sama,” ujar Gubernur NTB menyikapi masih tingginya harga tiket pesawat ke destinasi di tiga wilayah, usai penandatanganan kerja sama nota kesepahaman (MoU) antartiga provinsi, di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, NTB, Selasa lalu.
Gubernur Iqbal mengakui persoalan konektivitas (transportasi), menjadi salah satu agenda yang dibahas. Oleh karena itu, dalam proses identifikasi tersebut, masing-masing Dinas Perhubungan akan mencari tahu di mana letak masalahnya. Sehingga kalau ada persoalan ketiga gubernur akan berbicara ke pemerintah pusat dan maskapai sehingga tidak jalan sendiri-sendiri.
“Ada persoalan kami bertiga yang akan sama-sama ngomong ke pemerintah pusat sehingga tidak sendiri-sendiri. Karena kalau kami bertiga ngomong ke maskapai pasti akan lebih didengar,” katanya.
Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan kerja sama tiga provinsi ini adalah untuk melanjutkan pertautan sejarah lahirnya Sunda Kecil pada 14 Agustus tahun 1958. Karenanya, pihaknya merespons positif kerja sama tiga provinsi kali ini, untuk melanjutkan dan menjaga hubungan historis tersebut.
“Kita MoU di bidang pariwisata, perhubungan, energi terbarukan, ekspor impor dan perdagangan,” katanya lagi.
Gubernur NTT Melkiades Laka Lena menegaskan kerja sama ini merupakan langkah maju antartiga provinsi tetangga tersebut. Karena itu, pertemuan ini agak sedikit berbeda dari pertemuan sebelumnya di Bali.
“Pertemuan di Mandalika ini adalah langkah maju kami bertiga (NTB, NTT, dan Bali). Maka, kenapa agak ramai, ini karena kami ingin langsung aksi dengan semua program jelas menguntungkan. Tapi, untuk detailnya kami bahas di NTT,’’ katanya.
“Untuk pertemuan di NTT, kami bersepakat akan menghadirkan semua bupati dan wali kota di tiga provinsi. Ini agar program unggulan yang dimiliki daerah, bisa langsung tersalurkan dan terkoneksi antarwilayah masing-masing,” ujar Melkiades.
Ia menambahkan bahwa pertemuan di Sirkuit Mandalika memiliki sebuah arti, yakni tiga provinsi Sunda Kecil siap lari kencang mengejar ketertinggalan dari wilayah lainnya di Indonesia. “Provinsi NTB, NTT dan Bali, siap berlari sesuai arahan dan niatan Presiden Prabowo untuk memulai kebangkitan ekonomi Indonesia dimulai dari Sunda Kecil,’’ ujarnya. (era)


