Bima (Suara NTB) – Angka pengangguran di Kabupaten Bima masih menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hasil Sensus Angkatan Kerja Tahun 2025, tercatat sekitar 6.400 orang masih berstatus pengangguran pada Agustus 2025. Angka tersebut menempatkan Kabupaten Bima pada urutan kelima terendah tingkat pengangguran di NTB.
Kondisi ini mendorong Pemkab Bima mengambil langkah lebih agresif untuk memperluas kesempatan kerja. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Bima, Aries Munandar, menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak ingin persoalan pengangguran terus menjadi beban sosial dan ekonomi masyarakat.
Menurut Aries, salah satu strategi utama pemerintah adalah membuka akses pasar kerja seluas mungkin, terutama bagi generasi muda. Melalui kegiatan bursa kerja atau job fair yang kini rutin dilaksanakan, pemerintah berusaha menciptakan wadah temu langsung antara pencari kerja dan perusahaan.
“Bursa kerja bukan sekadar acara seremonial, itu ikhtiar untuk mengurangi pengangguran secara nyata. Pencari kerja bisa bertemu langsung dengan perusahaan, menyerahkan berkas, bahkan wawancara saat itu juga,” katanya, Senin (8/12/2025).
Pada job fair terbaru yang digelar Disnakertrans, sebanyak 15 perusahaan berpartisipasi dengan menyediakan 415 lowongan. Aries mengakui jumlah tersebut belum ideal untuk menampung seluruh pencari kerja di Bima. Namun, langkah itu tetap menjadi pintu awal yang penting untuk membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat.
Ia menambahkan bahwa Bupati dan Wakil Bupati Bima juga memberi perhatian penuh terhadap persoalan ketenagakerjaan. Pemerintah daerah terus mendorong kolaborasi lintas sektor, baik dengan dunia usaha, lembaga pelatihan kerja, maupun pemerintah pusat, guna menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
“Bupati dan Wakil Bupati sangat berkeinginan mengurangi pengangguran. Mereka menekankan agar setiap program pemerintah harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Selain job fair, Pemkab Bima kini aktif memperluas program pelatihan berbasis kompetensi, termasuk peningkatan keterampilan bagi pemuda desa yang selama ini memiliki akses terbatas pada informasi kerja. Upaya penguatan kompetensi dinilai menjadi bagian penting untuk mengatasi akar persoalan pengangguran.
Aries menilai bahwa persoalan tingginya angka pencari kerja tidak hanya disebabkan minimnya lapangan kerja, tetapi juga kesiapan tenaga kerja dalam memenuhi kebutuhan industri. Karena itu, ia menekankan pentingnya pendidikan vokasi dan pelatihan yang sesuai standar dan kebutuhan pasar.
“Tantangannya bukan hanya menyediakan lowongan, tapi memastikan tenaga kerja kita siap bersaing. Kami dorong pelatihan yang sesuai kebutuhan industri,” jelasnya.
Ia berharap rangkaian program yang dijalankan pemerintah mampu menekan angka pengangguran secara bertahap dan memberikan harapan baru bagi ribuan warga yang masih mencari pekerjaan. “Tujuan akhirnya jelas, angka pengangguran di Bima harus terus turun, dan masyarakat mendapatkan pekerjaan yang layak,” tutupnya. (hir)


