spot_img
Minggu, Maret 1, 2026
spot_img
BerandaNTBAtur Pawai Ta'aruf dan Ogoh-ogoh

Atur Pawai Ta’aruf dan Ogoh-ogoh

KEMENTERIAN Agama (Kemenag) bersama Forkopimda Provinsi NTB dan tokoh masyarakat lintas agama mencoba mengatur pelaksanaan Pawai Ta’aruf menjelang tibanya bulan suci Ramadan dan pawai Ogoh-ogoh jelang Hari Raya Nyepi.

Kepala Kemenag Provinsi NTB H.Zamroni Aziz mengatakan, pihaknya telah menggelar rapat koordinasi dengan Forkompinda, tokoh agama, tokoh masyarakat lintas agama terkait dengan kegiatan dalam menyambut hari raya Nyepi dan bulan suci Ramadan.
Pentingnya pengaturan ini karena pawai Ogoh-ogoh hampir bersamaan waktunya dengan Pawai Ta’aruf menyambut bulan suci Ramadan. Di mana pelaksanaan dua kegiatan besar itu pada hari Minggu tanggal 10 Maret 2024.

“Itu yang kita atur. Kita sudah sepakati bersama PHDI dan semua lintas agama, Forkompinda, TNI-Polri, bahwa Ogoh-ogoh kita intsruksikan untuk digelar di wilayah kabupaten/kota masing-masing. Tentu yang sudah kita identifikasi yang akan melaksanakan Ogoh-ogoh itu Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara (KLU) dan Lombok Barat,” terang H.Zamroni Aziz, Jumat (1/3) kemarin.

Secara teknis, Pawai Ogoh-ogoh akan dimulai pukul 09.00 – 16.00 Wita. Kemenag berharap pesertanya dikurangi sehingga tingkat keramaiannya tidak seperti tahun-tahun yang lalu.
“Kita sepekati juga mobilisasi dari kabupaten/kota yang lain supaya tidak masuk ke Kota Mataram. Jadi supaya yang menyaksikan itu di masing-masing wilayah,” terangnya.
Kemudian mulai dari pukul 16.00 Wita langsung digelar Pawai Ta’aruf dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan. Pengaturan ini kata Zamroni sangat penting agar tidak bertemu di dalam satu wilayah. Sehingga meskipun harinya sama, namun jam pelaksanaannya yang berbeda.

Kemudian yang tidak kalah pentingnya yaitu pelaksanaan hari raya Nyepi juga sama dengan malam pertama puasa. Sehingga dalam rapat koordinasi itu disepakati agar seluruh unsur masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, penyuluh agama dan steakholder yang ada menyampaikan agar semua pihak saling memahami, saling menghormati dan saling menghargai.

Sehingga nanti, masyarakat yang sedang melaksanakan Nyepi tidak terganggu. Kemudian masyarakat yang melaksankan ibadah salat tarawih di malam pertama juga bisa berjalan lancar.

“Harapan kita bisa berjalan secara bersama-sama dengan tidak saling mengganggu antar umat beragama. Ini saya yakin sudah biasa kita lakukan di NTB. Kami juga sepakati untuk kita mengimbau kepada tokoh agama, masyarakat lintas agama untuk saling menjaga umat masing-masing, menjaga ketertiban, keamanan dan berkoordinasi dengan pihak keamanan dan pemerintah daerah,” tutupnya.(ris)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO