Praya (Suara NTB) – Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) mencatat ada lebih dari 800 kasus Tuberculosis (TBC) yang ditemukan di daerah sampai sejauh ini. Jumlah tersebut cenderung naik dari temuan kasus di tahun-tahun sebelumnya. Selain mengoptimalkan upaya-upaya kuratif, berupa pengobatan terhadap penderita TBC. Langkah preventif juga terus dimaksimalkan.
Kepala Dikes Loteng Dr. H. Suardi, SKM., MPH., Jumat, 23 Agustus 2024, mengakui, banyaknya temuan kasus TBC jadi satu keprihatinan tersendiri. Sisi positifnya bagi pemerintah daerah hal itu jadi keuntungan juga, karena sasaran penanganan kasus TBC lebih jelas dan terarah.
“Jumlah temuan kasus TBC yang cukup banyak tersebut juga menunjukkan tingginya kesadaran masyarakat untuk melaporkan diri. Sehingga kami bisa segera melakukan langkah-langkah pengobatan. Sekaligus melakukan upaya deteksi dini terhadap kemungkinan temuan kasus TBC lainnya,” terang Suardi.
Terkait penanganan penderita TBC pihaknya memberlakukan pengawasan yang ketat. Di mana setiap penderita itu akan diawasi secara berkala oleh tim kesehatan di bawah. Untuk memastikan bahwa penderita TBC bersangkutan menjalani proses pengobatan secara tepat.
Mengingat, mengobati penyakit TBC butuh waktu lama sekitar 6 bulan dengan secara rutin mengkonsumsi obat yang telah disediakan tanpa terputus setiap hari. Jika terputus sehari saja tidak meminum obat TBC, konsekuensinya harus mengulangi dari awal lagi mengkonsumsi obatnya.
“Jadi memang pengobatan terhadap penderita TBC tidak bisa asal. Makanya, tim kesehatan kita di bawah secara ketat mengawasi semua penderita TBC yang ada diwilayahnya masing-masing. Supaya menjalani pengobatan secara teratur sesuai ketentuan yang ada. Dan, secara berkala juga dievaluasi kondisi penderitanya,” imbuhnya.
Soal langkah preventif, pihaknya terus melakukan sosialisasi. Guna menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan. Baik itu kebersihan diri maupun lingkungn sekitarnya. Pasalnya, TBC muncul salah satunya karena factor lingkungan.
Terhadap keluarga yang memiliki penderita TBC juga tetap diingatkan untuk melakukan isolasi serta menjaga interaksi dengan penderita. Untuk mengantisipasi potensi penularan TBC. Tidak kalah penting, jika masyarakat mengalami gejala atau tanda-tanda TBC, diharapkan bisa segera melaporkan diri ke tim kesehatan agar bisa dilakukan penanganan sesegera mungkin.
“Penyakit TBC termasuk penyakit yang bisa menular melalui kontak langsung dengan penderita atau melalui lingkungan. Di mana lingkungan yang kotor dan kumuh, berpotensi menyebarkan penyakit TBC,” tandas Suardi. (kir)


