Mataram (Suara NTB) – Provinsi NTB memiliki misi untuk menguatkan ketahanan pangan dan pembangunan ekosistem agro-maritim. Hal ini menjadi salah satu pembahasan penting dalam kegiatan pendampingan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk lingkup Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB yang berlangsung di Kantor Distanbun NTB, Selasa, 25 Februari 2025.
Sekretaris Distanbun NTB Ni Nyoman Darmilaswati memberikan kesempatan kepada perwakilan Bappeda NTB untuk melaksanakan pendampingan dalam penyusunan RPJMD yang melibatkan berbagai pihak terkait. Dalam kesempatan tersebut, Bappeda diwakili oleh Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Iskandar Zulkarnain.
Menurut Iskandar, RPJMD Pemerintah Provinsi NTB untuk periode 2025-2029 mencakup tujuh misi utama, 10 program unggulan, dan 106 kegiatan strategis. Ada tiga isu prioritas utama yang menjadi fokus utama dalam RPJMD yaitu pengentasan kemiskinan, penguatan ketahanan pangan melalui pembangunan ekosistem industri pertanian dan subsektornya, serta menjadikan NTB sebagai destinasi pariwisata kelas dunia.
Salah satu program unggulan yang diampu oleh Distanbun NTB adalah NTB Agro Maritim. Program ini memiliki mandat yang sangat penting, yaitu mengurangi angka kemiskinan serta membuka lapangan pekerjaan baru melalui pembangunan ekosistem yang kuat untuk industrialisasi berbasis pertanian, peternakan, dan kelautan-perikanan.
“Keberhasilan program ini diharapkan mampu menjadikan NTB sebagai kawasan industri agro-maritim yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan,” kata Iskandar.
Dalam rapat ini juga dibahas isu-isu strategis yang menjadi tantangan utama bagi Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, yang terkait dengan dua isu prioritas utama pemerintah daerah.
Beberapa isu yang dihadapi antara lain menurunnya produksi tanaman pangan, fluktuasi produksi hortikultura, belum optimalnya produksi perkebunan, alih fungsi lahan pertanian, dan terbatasnya ketersediaan benih unggul.
Selain itu, juga disoroti kurangnya minat generasi muda dalam menggeluti sektor pertanian, serta dampak perubahan iklim yang menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian dan perkebunan di NTB.
Dari evaluasi yang dilakukan oleh Bappeda Provinsi NTB, beberapa pencapaian yang perlu diapresiasi antara lain adalah produksi Gabah Kering Giling (GKG) dan jagung kering pipil yang sudah melampaui target yang ditetapkan.
Selain itu, produksi tanaman hortikultura, seperti cabai, juga sudah melampaui target, meski untuk produk manggis dan bawang merah masih jauh dari target yang diinginkan. Di sektor tanaman perkebunan, seperti kopi, kakao, dan tembakau, sudah melampaui target, meskipun kelapa dan jambu mete masih berada di bawah target.
Meskipun banyak pencapaian yang sudah diraih, upaya untuk terus memperbaiki dan mengatasi tantangan yang ada dalam sektor pertanian dan perkebunan di NTB tetap menjadi fokus utama. NTP (Nilai Tukar Petani) Provinsi NTB juga telah melampaui target, namun keberlanjutan pencapaian ini membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor terkait.(ris)