Tanjung (Suara NTB) – Ruas jalan Akar-Akar – Pawang Timpas, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU) sebagian besar tak pernah tersentuh anggaran. Dari 14 km ruas jalan, Pemda KLU hanya mengintervensi ruas di jalur masuk ke Desa Gunjan Asri sepanjang 2 km dengan konstruksi lapen. Kini struktur lapen sudah hancur, terkikis air hujan dan kembali menjadi jalan tanah.
Sejumlah Anggota Komisi III DPRD Lombok Utara turun ke lokasi tersebut, pada Kamis, 24 April 2025. Di antaranya, M. Indra Darmaji Asmar, ST., H. Nirdip, H. Edi Prayitno, Iwandi, SE., serta L. Muhammad Zaki.
Zaki yang notabene anggota DPRD Dapil Bayan mengkritisi betul kondisi ruas jalan di Kecamatan Bayan tersebut. Kondisi saat ini, seluruh ruas jalan dalam keadaan rusak berat. Bahkan pada musim hujan kemarin, sejumlah titik tak bisa dilewati karena berlubang terkikis air.
“Di jalur ini terdapat SDN 7, SDN 3 Akar-Akar, MI (Madrasah Ibtida’iyah), SMP Negeri dan Kantor Desa Gunjan Asri. Penduduk 6 dusun di Gunjan dengan dominan profesi petani juga menggantungkan akses pada ruas ini,” tegas Zaki.
Ruas jalan ini sangat strategis karena menjadi penghubung atau berbatasan langsung dengan 3 desa di Bayan. Titik nol sampai dengan 2 km masuk wilayah desa Akar-Akar sekaligus berbatasan dengan bagian timur Desa Mumbulsari. Sedangkan 2 km sampai titik ujung jalan, masuk wilayah Desa Gunjan Asri sekaligus berbatasan dengan Desa Mumbulsari.
Zaki mengakui, ruas ini selalu disuarakan oleh masyarakat di setiap tahun Musrenbang, bahkan sebelum Desa Gunjan Asri terbentuk. Namun selama usia KLU, APBD hanya mengintervensi 2 km. Sedangkan 1,5 km di bagian tengah ruas, diintervensi oleh Program Percepatan Infrastruktur Perdesaan (PPIP) PNPM tahun 2010. Sisanya sepanjang 10,5 km masih murni jalan tanah.
“Warga kami di Bayan terkesan dianaktirikan. Ini baru satu jalur, belum lagi kita lihat kondisi ruas jalan di desa lain,” imbuhnya.
Selaku wakil rakyat, Zaki meminta kepada Pemda melalui OPD terkait untuk mengupdate data volume kualitas jalan tiap kategori. Ia menduga, persentase ruas jalan kualitas baik berlebihan, sehingga APBD Lombok Utara tidak memperoleh DAK Jalan pada tahun 2025.
“Jangan sampai, persentase kecil volume jalan rusak berat, tapi kalau dominan berada di Kecamatan Bayan, maka ini menjadi ketimpangan ekstrem. Sangat wajar warga kami di Bayan setiap hari mengeluhkan kondisi ini,” tandasnya.
Sementara, tokoh masyarakat sekaligus mantan Kepala Dusun di Desa Gunjan Asri, Ramli, berharap Pemda di bawah kepemimpinan Najmul Akhyar – Kusmalahadi Syamsuri memberi porsi untuk pengaspalan ke Desa Gunjan. Sebab menurutnya, dari 10 desa baru hasil pemekaran tahun 2017, hanya Desa Gunjan yang tak memiliki jalan hotmix.
“Apalagi pada saat kampanye kemarin, Pak Wabup, Kus sudah 3 kali turun ke masyarakat. Beliau sudah paham kondisi jalan di desa kami,” katanya.
Ramli mengakui, di sepanjang 14 km ruas jalan ini, kerap menghambat akses transportasi warga. Di beberapa titik ruas, warga Desa Gunjan sampai harus bergotong royong membeli tanah urug hanya untuk menimbun sementara.
“Harapan kami, Pemda benar-benar memperhatikan kebutuhan kami. Karena jalan rusak ini sering jadi alasan pengepul untuk membeli hasil komoditas petani dengan murah,” tandasnya. (ari)


