spot_img
Sabtu, Februari 28, 2026
spot_img
BerandaPENDIDIKANPentingnya AI dan Coding Bagi Siswa di Era Pendidikan Digital

Pentingnya AI dan Coding Bagi Siswa di Era Pendidikan Digital

Pentingnya AI dan Coding Bagi Siswa di Era Pendidikan Digital

Surnaini, S.Pd.I *)

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berencana memperkenalkan mata pelajaran Artificial Intelligence (AI) dan coding mulai kelas 4 SD.

Rencana ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yang menjelaskan bahwa meskipun tidak bersifat wajib, pengajaran AI dan coding diharapkan dapat dimulai pada kelas 4, 5, atau 6 SD.

Pembelajaran coding dan AI adalah dua hal yang saling berkaitan dan semakin penting dalam dunia pendidikan modern.

Secara definisi Coding adalah proses menulis instruksi untuk komputer dalam bahasa yang dimengerti oleh mesin, yang memungkinkan komputer untuk menjalankan tugas tertentu. Sedangkan AI (kecerdasan buatan) adalah bidang ilmu komputer yang berfokus pada pengembangan sistem yang dapat meniru kecerdasan manusia, seperti belajar dari data, mengenali pola, dan membuat keputusan
Kecerdasan Buatan (AI) telah mengubah banyak aspek kehidupan kita, dari cara kita bekerja hingga cara kita berinteraksi dengan teknologi. Dengan berkembangnya dunia digital yang semakin kompleks, satu pertanyaan yang kini semakin mengemuka adalah: Apakah penting bagi anak-anak sekolah dasar untuk belajar tentang AI?

Mengutip tirto.id Weipeng Yang, Asisten Professor di Department of Early Childhood Education (ECE) dari University of Hong Kong dalam laporannya yang berjudul Artificial Intelligence education for young children: Why, what, and how in curriculum design and implementation mengemukakan berbagai argumen terkait pentingnya mengajarkan AI kepada anak-anak.

Berdasarkan penelitian Weipeng Yang, AI bukan hanya untuk mereka yang bekerja di bidang teknologi atau ilmu komputer. AI adalah bagian dari literasi digital, yang kini menjadi keterampilan dasar yang harus dikuasai oleh semua warga dunia, termasuk anak-anak.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, keberadaan AI dalam kehidupan sehari-hari semakin tidak terhindarkan. Mulai dari asisten virtual, rekomendasi media sosial, hingga teknologi pengemudi otonom, AI sudah menjadi bagian penting dari masyarakat kita.

Pertanyaannya, mengapa hal ini penting untuk anak-anak Sekolah Dasar? Karena literasi AI memberikan dasar yang kuat bagi mereka untuk mengerti dan beradaptasi dengan dunia yang semakin terhubung dengan teknologi.

Weipeng Yang dalam laporannya menegaskan bahwa pendidikan AI merupakan bagian organik dari literasi digital yang perlu dimiliki setiap individu, termasuk anak-anak. Dengan memahami prinsip-prinsip dasar AI, anak-anak akan lebih siap untuk berinteraksi dengan dunia yang semakin dipengaruhi oleh teknologi ini.

Diberbagai media yang kita baca diberitakan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menitipkan kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti supaya anak-anak Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) mendapat mata pelajaran coding serta kecerdasan buatan.

Menanggapi usulan Wapres Gibran, pakar keamanan siber dan forensik digital dari Vaksincom, Alfons Tanujaya merespon bahwa coding dan AI dalam kurikulum SD dan SMP bisa berdampak positif, namun buka kebijakan jangka pendek. “Kalau cuma satu presiden lalu ganti presiden dan kebijakannya ganti lagi, ya susah. Buang-buang uang saja itu,” kata Alfons dikutip dari Tempo, Jumat, 15 November 2024.

Kurikulum yang mengadopsi ilmu coding dan AI ini itu sebaiknya diterapkan secara konsisten dan berkesinambungan hingga jenjang SMA. Penerapannya juga harus disesuaikan dengan tingkat pengetahuan dan usia anak. Levelnya pengenalan ke AI, sehingga anak-anak jadi terbiasa dengan AI.

Penulis pada hakikatnya mendukung integrasi coding dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam kurikulum, tetapi perlu kiranya ditingkatkan pelatihan guru serta infrastruktur TIK yang merata. Kurikulum digital juga harus berdasarkan filosofi pendidikan, bukan sekadar mengikuti tren digital.

Di akhir tulisan ini kami ingin mengutip catatan dari Peneliti isu masyarakat digital, Deputi Sekretaris dari Center for Digital Society (CfDS) Fisipol UGM, Iradat Wirid. Seperti dikutip dari detik.com, dia memberikan catatan antara lain bahwa bekal yang pertama kali harus diberikan pada siswa adalah logika berpikir agar tercipta pemecahan masalah yang baik. Ia menjelaskan bahwa programmer atau coder harus dapat menyelesaikan masalah secara berurutan dalam sistem coding.

Oleh sebab itu, diperlukan juga pengajaran moral mengenai kesabaran dan ketelitian tinggi sehingga tidak perlu mengulang pekerjaan dari awal.

Iradat mengusulkan, pembelajaran coding secara teknis dapat dikemas dengan konsep belajar sambil bermain. Jika kapasitas anak tergolong mampu, dapat dilakukan praktik pembuatan game sederhana untuk jenjang SMP atau SMA.

Kita berharap semoga rencana program ini berhasil, setidaknya kita akan melihat beberapa sekolah yang akan menjadi pilot projectnya dulu yang saat ini tengah menyiapkan sejumlah sarana, di antaranya laboratorium komputer serta penyediaan SDM guru-guru yang akan memperkenalkan AI dan coding ini kepada siswa.

*) Guru di salah satu SD Negeri di Kabupaten Sumbawa, NTB

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO