BerandaHEADLINEBanjir Terjang Kota Mataram, Rumah Warga di Majeluk Hanyut Terbawa Air

Banjir Terjang Kota Mataram, Rumah Warga di Majeluk Hanyut Terbawa Air

Mataram (Suara NTB) – Curah hujan yang cukup tinggi dengan durasi yang lama menyebabkan bencana banjir menerjang beberapa wilayah di Kota Mataram pada Minggu, 7 Juli 2025. Akibat banjir tersebut, beberapa rumah warga di RT 04, Lingkungan Majeluk, Kelurahan Pejanggik rusak. Bahkan satu rumah milik warga yang berada di dekat bantaran Sungai Ancar hanyut terbawa derasnya air sungai.

Dari pantauan Suara NTB, beberapa warga terlihat tengah membersihkan lumpur sisa banjir. Sementara warga lain, sibuk mengeluarkan barang-barang untuk dijemur. Atun, pemilik rumah yang tergerus derasnya banjir menceritakan kronologi kejadian nahas itu bermula.

Ia mengatakan, sejak siang menjelang sore hujan dengan intensitas tinggi turun cukup lama. Atun dan keluarga tidak menyangka bahwa banjir akan datang begitu tiba-tiba. Sebab, kata dia, sebelumnya sering terjadi hujan, tetapi tidak pernah sebesar seperti kemarin.

“Biasanya kan untuk yang kemarin itu tidak begitu. Saya kiranya kalau sudah hujan tidak segitu besarnya (banjir). Akhirnya kita diam. Tidak lama, cuma setengah jam itu langsung tidak ada yang bisa saya selamatkan,” ceritanya.

Atun yang juga pemilik laundry baju mengungkapkan, rumah miliknya yang berada di dekat bantaran Sungai Ancar turut menjadi korban keganasan banjir. “Semua barangnya orang. Kan saya ngelaundry. semua laundriannya orang tidak ada (tersisa). Semua hancur. Keluarga selamat, cuma itu dah barang-barang dan rumah itu dah (hanyut),” ungkapnya.

Saat ini, Atun dan beberapa warga lain memilih mengungsi di musala setempat. Sementara yang lainnnya mengungsi di ruang kelas milik SMAN 11 Mataram. Ia menyampaikan, beberapa relawan datang membantu membagikan makanan dan minuman. Namun, menurut pengakuan beberapa warga, bantuan baik dari Pemerintah Kota dan Provinsi belum tiba.

“Tempat kita mau berteduh sementara itu dah yang saya inginkan. Kalau di Musala tidak bisa juga, karena tempat salat. Tidak ada yang kita harapkan lagi sudah semua tidak ada,” ceritanya dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, Lahim, warga setempat turut menceritakan pengalaman sedihnya ketika harus menyelamatkan suaminya yang lumpuh dan barang-barang berharga miliknya. “Awalnya hujan biasa saja. Selama ini hujan sampai satu bulan tidak pernah ada terjadi sampai seperti ini. Yang bikin saya sedih itu suami saya kan lumpuh. Bisa dia jalan tapi tidak bisa melangkah berat. Itu yang membuat saya (sedih),” ceritanya sambil mengusapkan air mata.

Menurutnya, bencana banjir ini lebih parah ketimbang bencana-bencana lain, seperti gempa yang mengguncang Lombok pada 2018. “Parahan ini yang kita rasakan daripada gempa yang kemarin. Gempa bisa kita duduk di lapangan, kalau yang ini kan bingung kita, masuk air dalam rumah, itu yang membuat kita bingung,” ujarnya.

Banjir yang melanda pemukiman warga itu tidak hanya mengakibatkan rusaknya beberapa rumah warga, tapi juga membuat jembatan yang menghubungkan Kelurahan Cakranegara dan Pejanggik rusak parah. Para warga dan tim dari Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) terlihat bergotong royong membersihkan pohon-pohon yang terbawa air.

Saat ini, warga RT 1 dan 4 Lingkungan Majeluk, Kelurahan Pejanggik membutuhkan bantuan berupa tempat tinggal sementara, makanan dan minuman, serta pakaian. (sib)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO