Praya (Suara NTB) – Pemkab Lombok Tengah (Loteng) tengah mempertimbangkan untuk membangun rumah sakit di lahan eks kantor Bupati Loteng lama dari pada membangun mall atau pusat perbelanjaan seperti rencana awal. Pasalnya, sesuai hasil kajian yang dilakukan membangun mal pada era sekarang dinilai kurang begitu menjanjikan.
“Sudah ada kajian oleh tim independen, kalau membangun mal tidak direkomendasikan. Karena tren pengunjung mall dari waktu ke waktu terus menurun hingga 20 persen,” ungkap Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Loteng H. Lalu Wiranata, kepada Suara NTB, Minggu, 6 Juli 2025.
Atas dasar ini, Pemkab Loteng tengah berpikir ulang memaanfaatkan lahan eks kantor Bupati Loteng tersebut sebagai lokasi pembangunan gedung untuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya. Mengingat, kondisi RSUD Praya saat ini sudah ada sulit untuk dikembangkan lagi. Salah satunya karena keterbatasan lahan, bahkan untuk membangun area parkir masih kesulitan sampai sekarang ini.
Tapi kalau dibangun di lahan eks kantor Bupati Loteng, untuk pengembangannya ke depan akan jauh lebih mudah, karena lahannya cukup luas, lebih dari 3 hektare. Bahkan kalau mau dikembangkan menjadi rumah sakit bertaraf internasional sangat memungkinkan.
Belum lagi jika bicara lokasinya yang strategis, berada di tengah kota, sehingga mudah dijangkau dari arah manapun. “Dari sisi kebermanfaatannya, membangun rumah sakit akan jauh lebih menguntungkan bagi daerah. Baik itu dari sisi ekonomi maupun sisi pelayanan kepada masyarakat. Ketimbang membangun mal,” terangnya.
Pun demikian ia menegaskan itu baru wacana dan menjadi opsi yang tengah dipertimbangkan oleh Pemkab Loteng, agar lahan eks kantor Bupati Loteng yang sekarang ini bisa dimanfaatkan secara maksimal. Artinya, masih butuh proses panjang untuk sampai ke arah itu.
Karena pemerintah daerah harus mendiskusikan terlebih dahulu bagaimana konsepnya hingga soal dari mana sumber anggaran pembangunannya. Baik itu dengan DPRD Loteng dan elemen masyarakat lainnya. Supaya ketika rencana itu diputuskan untuk dilaksanakan, perencanaannya sudah matang.
Bagaimana dengan bangunan RSUD Praya yang sekarang? Wiranata mengatakan bangunannya bisa dimaksimalkan sebagai tempat studi atau pendidikan bagi tenaga kesehatan. Maupun kegiatan maupun pelatihan-pelatihan lainnya. ‘’Jadi masih bisa tetap menyumbang ke Pendapatan Asli Daerah (PAD) meski nantinya sudah tidak menjadi rumah sakit,’’ tegasnya.
“Istilahnya kita membangun bangunan baru untuk RSUD Praya. Bukannya membangun rumah sakit baru. Karena itu prosesnya berbeda. Terlebih status RSUD Praya kini sudah sudah menjadi tipe B. Jadi fasilitas penunjangnya juga harus memadai sesuai dengan tipenya,” tandas Wiranata. (kir)



