spot_img
Selasa, Februari 17, 2026
spot_img
BerandaNTBKOTA MATARAMMelihat Aktifitas Tagana, Tak Kenal Lelah Membantu Demi Kemanusiaan

Melihat Aktifitas Tagana, Tak Kenal Lelah Membantu Demi Kemanusiaan

Bencana banjir bandang yang menimpa Kota Mataram pekan kemarin menimbulkan dampak cukup parah. Tetapi siapa yang menyangka dibalik bencana ada orang siap bekerja sejak pagi hingga larut malam. Taruna Siaga Bencana alias Tagana. Relawan sosial ini tak kenal lelah membantu demi kemanusiaan.

AISAH, terlihat mondar-mandir mengurus seluruh perlengkapan memasak pada, Jumat, 11 Juli 2025. Tangannya cukup cekatan mengiris bumbu dapur serta mengaduk masakan. Sesekali suaranya menggelegar meminta rekannya menyiapkan bahan masakan. Perannya cukup vital. Ia dipercaya sebagai koki di dapur umum.

Aisah tergolong sebagai Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial Kota Mataram. Tak hanya menjadi koki, terkadang ia rela berjibaku di lokasi bencana mengevakuasi korban, mendistribusikan logistik, dan lain sebagainya.

Sebagai chef alias koki butuh energi lebih dibandingkan petugas lainnya. Waktu istirahatnya sangat singkat. Jarang pulang ketika bencana melanda. Diprotes anak dan cucu sudah sering dialami. Aisah mengaku senang menjalani tugasnya. Sebagai ibu kepala rumah tangga tidak mampu membantu korban bencana dengan uang. Ia hanya bisa membantu dengan tenaga. “Saya mau bantu materi ndak punya. Mohon maaf, saya ini janda. Cukup saya bantu dengan tenaga saja,” ujarnya.

Sebagai relawan kata Aisah, membutuhkan kekompakan tim. Tugas yang dikerjakan harus satu komando. Ia bersyukur Tagana Dinas Sosial Kota Mataram, terbiasa dan mengetahui tugas yang akan dikerjakan. Ia pun tidak kewalahan saat menyajikan menu makanan di dapur umum untuk para korban banjir.

Menjadi relawan menurutnya, memiliki konsekuensi. Aisyah bersama anggota Tagana lainnya merelakan jam istirahatnya terganggu. Ia terkadang hanya tidur selama dua jam dalam sehari. Pasalnya, ribuan bungkus nasi harus dipersiapkan untuk masyarakat Mataram yang menjadi korban banjir. “Tadi pagi saya hanya istirahat dua jam, karena jam 03.00 dini hari sudah mulai masak untuk menyiapkan makanan bagi korban banjir,” katanya.

Sebagai koki di dapur umum tidak ada yang menggantikan posisinya. Aisyah harus tetap datang agar kualitas rasa masakan terjaga. Selama ini, masyarakat tidak ada yang komplain dengan hasil masakannya. Sebab, citra rasa masakannya sesuai dengan selera masyarakat Lombok pada umumnya. “Alhamdulillah, tidak ada yang pernah komplain. Kalaupun komplain kenapa tidak ditaruhkan sambal,” tuturnya.

Ahmad, anggota Tagana Dinas Sosial Kota Mataram juga bersyukur bisa terlibat dalam membantu korban bencana alam. Sebagai relawan memiliki konsekuensi. Ia harus meninggalkan keluarga demi kerja-kerja kemanusiaan. “Baru sebulan di Bintaro. Kita dipindah lagi kesini,” ujarnya.

Ia merasa kehadiran Tagana sangat penting saat kebencanaan. Kata dia, tidak hanya mengevakuasi korban dan mendistribusikan bantuan, melainkan harus menyiapkan ribuan bungkus makanan dalam waktu cepat.

Kepala Dinas Sosial Kota Mataram Drs. Lalu Syamsul Adnan menyebutkan, 40 taruna siaga bencana diterjunkan untuk masak di dapur umum. Selain memasak, mereka memiliki tugas mendistribusikan ke lokasi yang terdampak banjir.

Untuk mempertahankan kualitas masakan, satu orang tagana khusus mengatur. “Iya, ada satu koki yang kita siapkan untuk mengatur masakan. Kalau tidak ada nanti bisa komplain karena rasanya,” pungkasnya.

Masakan yang disajikan disesuaikan dengan lidah masyarakat. Selain itu, menu makanan yang disajikan dalam pengawasan ahli gizi dari Dinas Kesehatan Kota Mataram.

Syamsul bersyukur keberadaan Tagana sangat membantu. Tagana sebagai relawan memiliki peran penting dalam proses evakuasi, distribusi bantuan maupun menyiapkan makanan bagi korban bencana. (cem)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO