Mataram (Suara NTB) – Acara penutupan Festival Masyarakat Sekolah (FMS) 2025 di Teras Udayana pada Senin 25 Agustus 2025 berlangsung megah sekaligus meriah. Acara yang bertujuan untuk memperingati HUT ke-32 Kota Mataram serta menjadi momen silaturahmi dan kreasi ini tercatat dihadiri 4000 hingga 5000 peserta dari seluruh masyarakat sekolah di Mataram.
Teras Udayana menjadi saksi bisu bagaimana menakjubkannya pagelaran FMS 2025 tersebut. Dari guru, tenaga pendidik (Tendik), siswa, hingga orang tua menyemuti areal teras di jantung kota itu. Dengan balutan kreativitas dari masyarakat sekolah hingga pertunjukan demi pertunjukan turut menyemarakan acara malam puncak FMS 2025.

Acara yang juga bertujuan untuk memberikan apresiasi berupa penghargaan kepada guru, tenaga pendidik, komunitas sekolah prestatif, inovatif, dan dedikatif itu turut dihadiri Wali Kota Mataram, Bunda Guru Kota Mataram, Sekda, Kadis Pendidikan dan jajaran, hingga sederet kepala sekolah serta orang tua siswa.
Dalam sambutannya, Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana pada Senin (25/8) mengatakan, pemberian apresiasi kepada guru dan Tendik ini merupakan suatu hal yang penting bagi siswa. Sebab, hal tersebut dapat menjadi motivasi serta inspirasi untuk anak didiknya untuk melakukan hal yang serupa di masa mendatang.
“Jadi ini penting. Ini baik sekali agar anak-anak kita juga melihat figur-figur atau sosok yang langsung menjadi teladan bagi mereka. Jadi saya kira anak-anak kita saat ini, tentu apalagi yang SD, SMP , bahkan SMA yang menjadi generasi pertama yang hidup di tengah-tengah kehidupan teknologi informasi yang berkembang sangat pesat saat ini,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan guru yang motivatif dan inspiratif sangat diperlukan untuk memicu peserta didik memunculkan kreativitas mereka. Apalagi guru merupakan sosok yang mereka lihat sehari-hari. “Khususnya ketika berinteraksi dengan anak-anak ini ada hal-hal yang memang secara langsung mereka lihat bagaimana guru kreatif. Bagaimana guru bisa menjadi bagian yang senang mereka lihat sehari-har. Sehingga mereka tentu memiliki figur-figur yang dekat dengan mereka yang bisa dijadikan sebagai contoh dalam kehidupan anak-anak kita ini,” jelasnya.
Ia menyampaikan, FMS menjadi momentum silaturahmi bagi guru dan siswa. Sehingga relasi antara pendidik dan peserta didik dapat lebih cair dan harmonis. “Sekaligus tentu menjadi penting bagi kita semua agar relasi antara guru kemudian murid itu semakin cair. Dengan anak-anak kita semakin dekat, semakin akrab, suasana kebatinan anak-anak kita semakin dirasakan, dan semakin dekat dengan guru-guru sebagai tenaga pendidik utama mereka di sekolah,” terang Mohan.
Mohan berharap, kegiatan FMS ini dapat terus terselenggara ke depannya dengan kegiatan-kegiatan yang lebih kreatif dan inovatif. “Kami Pemkot Mataram sangat mendukung kegiatan ini dan insyaallah ke depan tentu saya yakinkan Dinas Pendidikan bahwa besok ke depan harus lebih meraih lagi. Harus lebih ramai lagi, pelibatannya juga harus lebih banyak lagi, dan kita akan support dari sisi anggaran tentunya untuk kegiatan ini,” ujar Mohan yang sontak mendapat tepuk tangan meriah dari peserta.
Sementara itu Kepala Disdik Kota Mataram, Yusuf sangat bersyukur kegiatan FMS dari pembukaan hingga penutupan dapat terselenggara dengan lancar dan sukses. Ia menyampaikan, setiap tahun penyelenggaraan FMS mesti ada yang spesial. “Jadi kegiatan (FMS) tahun ini agak spektakuler karena ada berbagai kegiatan yang dipersembahkan dari forum MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Ada MGMP Matematika, IPA, IPS, semua menunjukkan kegiatannya,” ujarnya.
Ia berharap, Pemkot dapat terus memberikan dukungan untuk penyelenggaraan FMS ke depannya. Sehingga kegiatan FMS selanjutnya berlangsung lebih baik lagi.
Kepala Bidang (Kabid) Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Disdik Kota Mataram Naufal Aldian menambahkan, ada sekitar 4000 sampai 5000-an hadir dalam gelaran FMS tahun ini. Ia juga mengungkapkan ada perbedaan FMS 2025 dengan tahun sebelumnya terletak pada pelibatan guru serta peserta didik yang massif dalam penyelenggaraannya.
“Sehingga ini jadi motivasi teman-teman guru untuk tetap berkreasi semua di situ. Untuk tetap berprestasi semua,” sebutnya.
Menurutnya, dalam pagelaran festival kreativitas memang diperlukan sesuatu yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. “Berbeda dari tahun-tahun kemarin. Jadi biar masyarakat kita, khususnya masyarakat sekolah itu tidak jenuh terhadap yang kemarin. Kitta harus pakai pola-pola yang baru lagi,” terangnya.
Bagi Naufal, kegiatan FMS merupakan ruang kreasi dan inovasi bagi guru dan tenaga pendidik di Kota Mataram. Tak hanya itu, FMS juga menjadi momen yang ditunggu bagi semua pengajar dan pelajar untuk bertemu serta bertatap muka satu sama lain.
Ia berharap, FMS dapat menjadi ruang bersama untuk semua masyarakat sekolah untuk bersinergi dan berkolaborasi membangun kualitas pendidikan di Kota Mataram semakin lebih baik lagi. “FMS ini dalam arti ruang komunal kita berpikir bagaimana membangun kualitas pendidikan kita, sehingga ruang karakter bisa dipanggil dalam aksi nyata di lapangan,’’ katanya.
Naufal berkomitmen untuk menyelenggarakan FMS pada tahun-tahun berikutnya dengan konsep dan kejutan-kejutan yang patut ditunggu oleh semua masyarakat sekolah di Kota Mataram. (sib/*)

