Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melakukan uji coba insinerator sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sandubaya, Rabu, 3 September 2025. Uji coba berjalan lancar tanpa kendala teknis, namun operasional jangka panjang masih terkendala pasokan daya listrik yang belum memadai.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi menyampaikan, secara teknis insinerator berfungsi normal. Proses pembakaran berlangsung sempurna dan hasilnya sesuai harapan. Namun, alat ini memerlukan daya listrik sebesar 33.000 watt, sementara daya yang tersedia saat ini hanya 2.000 watt.
“Sehingga penambahan daya listrik ini sekarang sedang dalam proses pengajuan ke PLN,” ujar Denny usai uji coba.
DLH Kota Mataram telah mengajukan permohonan penambahan daya ke PLN dan saat ini masih menunggu proses teknis serta administrasi. Sambil menunggu, TPST Sandubaya akan menjalankan operasional terbatas hingga seluruh infrastruktur pendukung tersedia.
Selain persoalan listrik, uji coba juga menekankan pentingnya pelatihan operator untuk memahami cara kerja insinerator dan menerapkan standar keamanan seperti penggunaan alat pemadam api ringan (APAR), alat pelindung diri (APD), dan prosedur keselamatan lainnya.
Denny menjelaskan, insinerator ini mampu memproses hingga 10 ton sampah per hari dengan dua kali pembakaran dan waktu operasional total sekitar 16 jam.
Saat ini, Pemkot Mataram telah memiliki tiga unit insinerator. Satu unit merupakan hibah dari Pemerintah Provinsi NTB, satu lainnya hibah dari RSUD Kota Mataram H. Moh. Ruslan, dan satu lagi merupakan pengadaan dari anggaran Pemkot. “Untuk insinerator dari RSUD, kita masih menunggu kesiapan teknis sebelum dipindahkan ke TPST,” tambahnya.
Sementara itu, Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana mengatakan, uji coba ini juga bertujuan untuk melihat tingkat produktivitas alat. Dengan kapasitas maksimal 10 ton per hari dan operasional dua shift, insinerator ini dinilai belum mampu secara signifikan menangani total volume sampah harian Kota Mataram yang mencapai 200 ton.
“Kalau kita lihat dari total produksi sampah harian, alat ini belum signifikan. Tapi ini menjadi langkah awal dan bagian dari solusi,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan insinerator sangat penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap TPA Regional Kebon Kongok di Lombok Barat. Pemkot Mataram juga telah menganggarkan satu unit insinerator tambahan yang saat ini sedang dalam proses pengadaan.
“Ke depan, kami merencanakan pengadaan insinerator dengan kapasitas lebih besar, bisa mencapai 100 ton per hari. Dengan begitu, nantinya yang dibuang ke Kebon Kongok tinggal residunya saja,” pungkasnya. (pan)


