MENJELANG perhelatan MotoGP Mandalika yang akan digelar pada 3–5 Oktober 2025 mendatang, pelaku industri perhotelan di Kota Mataram dikabarkan masih belum merasakan dampak signifikan terhadap tingkat hunian kamar, khususnya bagi hotel kelas melati. Hingga dua minggu menjelang ajang balap motor internasional tersebut, tingkat pemesanan kamar hotel melati di Mataram dilaporkan masih sangat rendah, bahkan di beberapa tempat masih nihil.
Anggota Komisi II DPRD Kota Mataram, IGB Hari Sudana Putra, SE., yang juga anggota Perhimpunan Hotel Melati (PHM) Kota Mataram, menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada peningkatan signifikan dalam jumlah tamu yang melakukan pemesanan kamar. “Sampai hari ini, teman-teman yang tergabung dalam PHM, hampir semuanya belum memperoleh tamu booking-an untuk perhelatan MotoGP ini,” ujarnya kepada Suara NTB di DPRD Kota Mataram, Selasa, 23 September 2025
Padahal, ajang MotoGP Mandalika digadang-gadang sebagai salah satu momentum penting dalam menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi daerah, khususnya di Provinsi NTB. Sementara hotel-hotel berbintang di kawasan tertentu disebut sudah mulai mendapatkan reservasi dari pelanggan tetap atau wisatawan yang datang.
Selain rendahnya tingkat okupansi hotel melati, kekhawatiran juga muncul dari laporan penjualan tiket MotoGP baru mencapai sekitar 30 persen, dua minggu sebelum pelaksanaan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan minimnya jumlah wisatawan yang hadir, serta tidak meratanya dampak ekonomi ke berbagai sektor masyarakat, terutama pelaku UMKM dan pengusaha hotel kecil.
Pelaku usaha hotel melati pun berharap adanya intervensi dan dukungan dari berbagai pihak, khususnya pemerintah daerah, Dinas Pariwisata, serta panitia pelaksana MotoGP, untuk membantu mempromosikan hotel-hotel non-bintang sebagai alternatif penginapan yang layak dan terjangkau bagi para penonton MotoGP.
“Perlu ada peran serta stakeholder, termasuk dinas pariwisata, untuk menyampaikan kepada calon penonton bahwa masih ada banyak hotel melati yang kredibel dan layak dihuni,” lanjut Gus Arik, sapaan akrabnya.
Menanggapi kekhawatiran terkait potensi melonjaknya harga hotel secara tidak wajar seperti yang terjadi pada perhelatan MotoGP pertama beberapa tahun lalu, PHM telah menetapkan batasan harga bagi para anggotanya. PHM telah menyepakati standar harga maksimal guna menjaga kredibilitas dan kepercayaan publik.
“Hotel melati sekarang sudah diberikan standarisasi. Tidak boleh lagi menaikkan harga berlebihan seperti perhelatan pertama. Kami sudah diberi batas standar harga yang wajar,” akunya.
Langkah ini juga diharapkan dapat memberikan citra positif terhadap industri perhotelan di Mataram, khususnya hotel kelas melati yang selama ini menjadi alternatif penginapan terjangkau bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Pihak PHM juga menyuarakan pentingnya aksesibilitas informasi bagi calon penonton. Menurut mereka, promosi yang dilakukan selama ini cenderung berfokus pada penjualan tiket, namun kurang menginformasikan secara menyeluruh mengenai pilihan akomodasi yang tersedia. (fit)



