spot_img
Jumat, Februari 27, 2026
spot_img
BerandaBIMAKota Bima Belum Jadi Destinasi Utama Wisatawan

Kota Bima Belum Jadi Destinasi Utama Wisatawan

Kota Bima (Suara NTB) – Kota Bima belum menjadi tujuan utama bagi wisatawan. Selama ini, daerah tersebut hanya menjadi tempat singgah sebelum wisatawan melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di wilayah timur, seperti Labuan Bajo.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Bima, Sukarno, mengungkapkan kondisi itu menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah. Menurutnya, rata-rata wisatawan hanya singgah selama satu hari enam jam di Kota Bima. Padahal, idealnya kunjungan bisa berlangsung dua hingga tiga hari. “Misalnya mau ke Labuan Bajo, mungkin mereka sempat mampir berkunjung ke sini (Kota Bima)” ujarnya kepada Suara NTB, Rabu (1/10/2025).

Situasi ini tentu merugikan. Kota Bima memiliki banyak potensi wisata, tetapi belum mampu membuat wisatawan bertahan lebih lama. Karena itu, Dinas Pariwisata berupaya menata ulang spot-spot wisata sekaligus memaksimalkan promosi.

“Ini yang kita sedang kerjakan, agar wisatawan yang hanya berkunjung tersebut memperpanjang masa singgahnya dengan menata tempat-tempat wisata, memaksimalkan, dan mempromosikan potensi wisata yang kita punya,” tegas Sukarno.

Kota Bima memiliki sejumlah objek menarik. Antara lain Pantai Lawata, Pantai Kalaki, Bukit Jatiwangi, Taman Ama Hami, Taman Batas Kota, Vila Bonto, hingga Pondok Wisata Kolo. Semua destinasi itu selama ini cukup dikenal masyarakat lokal, namun belum dikemas sebagai produk wisata yang berdaya jual tinggi.

Dinas Pariwisata juga mulai menyiapkan konsep baru. Selain wisata alam, pemerintah ingin menggarap wisata budaya dan heritage. Menurut Sukarno, konsep tersebut bisa menjadi daya tarik yang unik sekaligus membedakan Kota Bima dari daerah lain.

“Kita juga mau kemas nanti ada heritage, wisata budaya. Saya rasa itu yang bisa kita jual, yang unik,” jelasnya.

Ia mencontohkan, Museum Asi Mbojo dan peninggalan sejarah kerajaan bisa dikemas sebagai pusat wisata budaya. Walaupun museum itu milik Kabupaten Bima, lokasinya tetap berada di Kota Bima sehingga bisa masuk dalam paket wisata.

“Kita ada makam-makam kuno raja. Kita mau spot-spot itu lebih menarik, hidup, dan memiliki nilai wisata lebih,” tambahnya.

Meski begitu, Sukarno tidak menampik tantangan besar yang dihadapi. Wisatawan yang datang ke Kota Bima jarang berniat menetap lama. Mereka hanya sekadar singgah.

Pemerintah pun dituntut kreatif agar Kota Bima tak lagi hanya jadi pintu masuk. Penataan infrastruktur, promosi agresif, serta kemasan paket wisata terintegrasi menjadi langkah yang kini sedang dikejar. “Target kita jelas, wisatawan jangan hanya lewat. Mereka harus mau tinggal lebih lama di Kota Bima,” pungkasnya. (hir)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO