MENJADI pengurus sebuah komunitas pada usia sekolah butuh tantangan yang tidak kecil. Selain dihadapkan dengan masalah mental atau percaya diri di hadapan banyak orang, juga pada struktur kepengurusan yang belum terbentuk sepenuhnya.
Hal inilah yang dialami Haniyah Nur Azizah siswi Kelas XI SMAN 4 Mataram Jurusan Ilmu Kesehatan Lingkungan. DatangĀ sebagai perwakilan Gumi Muda NTB, komunitas pemuda yang lahir dari kegiatan Youth Conference Berugak Pemuda, Haniyah Nur Azizah mencoba untuk menyampaikannya pada Program SPADA (Suara Pemuda Berkarya), program Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi NTB dan Pro 2 FM.
āāGumi Muda ini bisa dibilang masih bayiāstruktur kepengurusannya belum terbentuk sepenuhnya, tapi semangatnya sudah hidup di antara kami. Aku dan teman-teman ingin Gumi Muda jadi wadah bagi pemuda NTB untuk berdaya, bersuara, dan berkarya, terutama lewat isu-isu sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,āā ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin, 13 Oktober 2025.
Menurutnya, Gumi Muda akan fokus pada masalah-masalah penting di NTB, seperti pernikahan dini, dan putus sekolah. Baginya, semua hal bukan sekadar angka di berita, tetapi realita yang masih terjadi di sekitar dan Gumi Muda ingin menjadi bagian dari solusi itu.
Haniyah mengakui jika dirinya memiliki hobi menggambar. Menggambar adalah kegiatan yang belakangan ini menjadi wadah untuk mengekspresikan dirinya yang sebenarnya. āSetiap coretan rasanya bisa menuangkan emosi yang aku rasakan saat itu juga. Terkadang bahkan aku menggambar untuk orang lain, sebagai hadiah,ā Ā tuturnya.
Apalagi sekarang ini, ungkapnya, ada perbedaan pembelajaran zaman dahulu dengan sekarang. Terutama dengan dengan berkembangnya era digital saat ini. Menurutnya, teknologi membantu banyak hal, terutamaĀ informasi menyebar lebih cepat, dan belajar jadi lebih mudah.
Namun, di sisi lain, ada bahaya jika orang terlalu bergantung, apalagi dengan kemunculan AI (Artificial Intelligence). āAI memang membantu sih, tapi kalau ketergantungan bisa buat diri kita malas untuk berpikir. Padahal data-data yang AI dapatkan juga berasal dari manusia.ā Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah alat, manusia tetap harus jadi penggeraknya,āā ujarnya. (ham)


