Kota Bima (Suara NTB) – Bulog Cabang Bima tak lagi hanya menyerap beras seperti sebelumnya. Seiring dengan perluasan penugasan dari pemerintah, Bulog Bima kini menangani tiga komoditas utama sekaligus, yakni gabah, beras, dan jagung. Dari ketiganya, serapan gabah menjadi perhatian utama karena menyangkut langsung kesejahteraan petani.
Kepala Bulog Cabang Bima, Alfan Ghazali, menjelaskan bahwa sejak pemerintah menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen (GKP) menjadi Rp6.500 per kilogram, pihaknya diarahkan untuk memperkuat penyerapan di lapangan. Kebijakan ini dimaksudkan agar harga di tingkat petani tetap stabil dan tidak dimainkan oleh pengepul.
“Presiden sudah menetapkan harga pembelian pemerintah untuk GKP di angka Rp6.500. Tujuannya agar harga di tingkat petani tetap aman,” ujar Alfan di Kantor Bulog Cabang Bima, Selasa (14/10/2025).
Ia menjelaskan, dalam perdagangan, gabah dikenal dalam dua bentuk utama, Gabah Kering Panen (GKP) dan Gabah Kering Giling (GKG). GKP merupakan hasil panen yang kadar airnya masih tinggi dan perlu dikeringkan sebelum digiling, sedangkan GKG adalah gabah yang sudah melalui proses pengeringan dan siap digiling menjadi beras. Bulog Bima saat ini memusatkan perhatian pada pembelian GKP langsung dari petani agar harga tetap terkendali sejak dari sumbernya.
Untuk memperkuat serapan, Bulog membentuk Tim Penjemput Gabah (TPG) yang bekerja sama dengan Babinsa dan jajaran TNI. Tim ini turun langsung ke sawah saat musim panen untuk membeli gabah di lokasi. “Biasanya Babinsa memberi kabar H-3 sebelum panen. Tim kami langsung datang, timbang di tempat, dan transaksi dilakukan di sawah,” terang Alfan.
Gabah hasil penyerapan kemudian diproses oleh mitra penggilingan yang telah bekerja sama dengan Bulog. Hal ini karena Bulog Bima saat ini belum memiliki fasilitas pengering dan penggilingan sendiri. “Petani menjual GKP ke kami, lalu mitra yang mengeringkan menjadi GKG dan menggilingnya. Hasil akhirnya baru disetorkan ke Bulog,” jelasnya.
Langkah jemput gabah ke sawah ini sekaligus menjadi strategi Bulog menghadapi banyaknya pengepul yang membeli gabah dengan harga fluktuatif. Dengan sistem langsung ke petani, Bulog dapat memastikan petani memperoleh harga sesuai standar pemerintah tanpa harus bergantung pada tengkulak.
“Sekarang banyak pengepul yang main harga sesuka hati. Karena itu kami turun langsung, supaya pasokan dan harga bisa lebih terkontrol,” tegas Alfan.
Dari target penyerapan tahun ini sebesar 39.992 ton gabah, Bulog Bima telah mencapai 28.871 ton atau sekitar 72 persen. Penyerapan beras sudah mencapai 91 persen, sementara jagung masih di angka 30 persen.
Melalui strategi penjemputan langsung ini, Bulog Bima optimistis stabilisasi harga dan pasokan pangan dapat lebih terkendali menjelang akhir tahun. “Intinya, kami ingin harga di tingkat petani tetap aman dan stok nasional juga kuat,” tutup Alfan. (hir)


