Mataram (suarantb.com) – Kabar menggembirakan sekaligus membanggakan datang dari grup Cilokaq Sasak asal Lombok, NTB. Grup Cilokaq Sasak itu berhasil masuk nominasi Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2025 dalam kategori karya produksi musik global terbaik.
Kepada Suara NTB, vokalis Cilokaq Sasak, Muh. Nazaruddin Munir pada Rabu (15/10/2025) mengaku kaget dengan kabar masuknya karya musik mereka di penghargaan musik nasional.
“Ini bikin kita kaget dan bagaikan mimpi gitu. Luar biasanya ini kita tidak pernah berharap apa-apa, tiba-tiba kita dikasih tahu kami lolos nominasi,” ujarnya.
Baginya, keikutsertaan Cilokaq Sasak di AMI Awards merupakan prestasi terbesar semenjak grup musik tradisional Lombok itu berdiri.
“Karena ini adalah kasta tertinggi dari penghargaan musik di Indonesia. Jadi ketika sudah masuk nominasi saja tentu kita sudah melewati beberapa pesaing-pesaing yang sudah tentu juga para senior kita yang ilmu musiknya jauh di atas kita,” akunya.
Awal Terbentuk: Dari Program Kemenparekraf menjadi Grup Musik Produktif
Nazaruddin atau dengan sapaan akrab Zero ini bercerita, grup Cilokaq Sasak bermula dari program Kemenparekraf bernama Aksilarasi pada 2021. Program ini berupaya menyatukan seniman musik tradisional dan musik luar negeri di Pulau Lombok.
Dari sana, grup Cilokaq Sasak ini berdiri yang awal bernama Cilokaq Aksilarasi. Grup ini kemudian mendapatkan pembinaan, pembimbingan dari Kemenparekraf. Bahkan, Cilokaq Sasak mendapat pembiayaan rekaman, pengambilan video klip hingga berhasil merilis lagu.
“Jadi kami mengikuti pembinaan dan sebagainya sampai akhirnya di titik rilis video klip dan lagu untuk Album Aksilarasi Mandalika itu ada lima lagu atau mini album,” ceritanya.
Lewat karya musiknya berjudul “Balek Bembek”, Grup Cilokaq Sasak berhasil menembus batas ekspektasi dan masuk dalam jajaran nominasi penghargaan musik Indonesia tahun ini.
Zero menyampaikan, keberhasilan ini pun tak lepas dari bantuan dari label musik bernama “Musik Bagus” yang awalnya diinisiasi oleh almarhum Glenn Fredly.
Label Musik Bagus kemudian mendaftarkan tiga dari lima single mini album Cilokaq Sasak ke AMI Awards 2025. Tak sendiri, grup musik asal Lombok itu mesti bersaing dengan 5.277 karya lagu di seluruh Indonesia.
“Alhamdulillah kami lolos nominasi di kategori karya produksi musik global,” ucapnya.
Apa Itu Cilokaq Sasak?
Zero menjelaskan, Cilokaq Sasak adalah gabungan dari beberapa ensambel alat musik tradisional di antaranya ada instrumen Penting (Gitar), Piul (musik gesek), dan Suling. Lalu, di bagian perkusi ada Gendang Kepek, Rincik, dan Jidur.
“Yang membedakan Cilokaq dengan kesenian musik lain adalah tentu dari perpaduan penggunaan alat musik dan ciri khas dari nada lagunya yang berulang-ulang biasanya liriknya berisi pantun atau lelakaq,” terang Zero.
Grup Cilokaq Sasak berkomitmen untuk terus menciptakan lagu-lagu terbaik karya putra daerah NTB. Lagu-lagu yang diproduksi pun umumnya menggunakan bahasa Sasak, Lombok.
Karya-karya mereka juga tak sekadar indah, tapi juga mengandung nilai budaya yang kuat. Hal itu terbukti dari liriknya yang umumnya mengeksplorasi tentang budaya, Keindahan Pulau Lombok itu sendiri berikut dinamika manusianya.
Dengan demikian, menikmati musik karya daerah tak sekadar memuaskan telinga, tapi juga memuaskan pengetahuan akan budaya.
Kemunculan grup musik tradisional seperti Cilokaq Sasak membuktikan bahwa karya kesenian daerah tak akan lekang oleh zaman.
Meski, arus modernisasi terus berupaya menggeser kebudayaan daerah, tapi Cilokaq Sasak membuktikan bahwa karya kesenian daerah mampu bertahan dan bersaing di kancah nasional.
Meski demikian, pemerintah dan pihak terkait perlu meningkatkan perhatian terhadap seniman berikut karya mereka. Jika tidak, tidak menutup kemungkinan karya-karya seni daerah akan tergerus oleh modernisasi zaman.
“Geliat musik khas daerah kita ini sekarang sudah mulai memudar terbukti dengan makin sedikitnya grup-grup cilokaq yang masih ada saat ini, bahkan hanya hitungan jari,” ungkapnya.
Zero berharap, Pemerintah dapat memperhatikan keberadaan seniman-seniman di NTB. Program-program pembinaan perlu untuk memastikan musik tradisional terus eksis dan meluas.
“Artinya pembinaan dalam arti memberi panggung-panggung yang mengikutsertakan mereka di beberapa event-nya pemerintah. Karena kami tentunya pernah merasakan sebagai seniman, kami memiliki karya-karya yang menurut rekan-rekan lainnya bagus namun kita tidak bisa mengekspresikan diri,” tandasnya. (sib)


