spot_img
Selasa, Februari 17, 2026
spot_img
BerandaBREAKING NEWSJelang Musda Golkar KLU, Figur Milenial Muncul sebagai Kandidat Pimpin DPD II

Jelang Musda Golkar KLU, Figur Milenial Muncul sebagai Kandidat Pimpin DPD II

Tanjung (suarantb.com) – Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golongan Karya (Golkar) di tingkat Kabupaten di NTB, menyisakan dua Kabupaten, yaitu Lombok Utara dan Dompu. Di tengah penantian jadwal Musda Golkar KLU dari DPD I Golkar NTB, mencuat dua opsi Calon Ketua yang notabene suara kader.

Dua opsi itu yaitu, Golkar kembali dipimpin Ketua sebelumnya. Opsi kedua, terbukanya peluang figur baru dari kalangan milenial tetapi memiliki historis politik dari partai Pohon Beringin.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kandidat Calon Ketua DPD II Golkar KLU periode mendatang tidak lepas dari figur politisi senior, Mariadi, S.Ag. Diakui atau tidak, publik mengenal Golkar adalah Mariadi, dan Mariadi adalah Golkar.

“Berbicara gaya kepemimpinan, kalau Golkar mau besar, memang baiknya Pak Mariadi. Ini kalau kita mengacu pada figur politisi senior. Jaringan dan chemistry di tokoh dan di tiap kecamatan, beliau kuat. Sebagai penceramah, pentakziah, bahkan pidato politik, beliau menguasai panggung,” ungkap loyalis sekaligus Kader Partai Golkar KLU asal Tanjung, Citra, Rabu (22/10/2025).

Namun di tingkat figur baru, Citra juga memiliki kesan kepada beberapa figur kader dan menduduki jabatan politik di Legislatif Lombok Utara. Tiga anggota Fraksi Golkar DPRD KLU, masing-masing, M. Indra Darmaji Hasmar, ST., (Dapil II-Gangga), Ikhwanudin, S.Ag., (Dapil V-Pemenang), dan Raden Nyakradi, S.Pd., (Dapil IV-Bayan).

Figur Baru

Dari ketiga nama itu, Citra secara gamblang memilih figur Indra Darmaji. Secara etika, ia tak mengungkap alasan di balik keberpihakannya pada Darmaji kendati figur lain memiliki riwayat mewakili Fraksi Golkar lebih lama di DPRD KLU. Namun kesan positif yang ia tangkap, meski masih muda, Darmaji dinilai fleksibel, mengedepankan etika politik, dan memiliki riwayat turun temurun pada garis politik Partai Golkar.

“Ibarat kata, walaupun Darmaji lahir nyungsang karena baru tujuh bulan di Golkar, tapi beliau ada darah kepemimpinan dan punya trah Golkar dari orang tua. Itu mengapa saya pribadi akan mendukung Darmaji jika harus aklamasi memilih figur baru,” tegasnya.

Lebih lanjut, Citra berandai-andai apabila Golkar ke depan dipercayakan kepada figur baru, maka dirinya berharap, agar pengurus DPD II nantinya tidak mengabaikan figur senior yang memiliki pengaruh politik di KLU.

“Kita minta kepada pengurus dan kader, supaya komunikasi tetap jalan. Dan menempatkan pak Mariadi sebagai orang tua kita di Golkar KLU. Alangkah lebih elok, calon yang baru komunikasi di awal sehingga tidak terkesan ada kompetisi di KLU ini,” tutup Citra.

Terpisah, Ketua DPD II Golkar KLU, Mariadi, yang dikonfirmasi mengatakan, pihaknya akan menyerahkan keputusan menunjuk Ketua DPD II Golkar KLU kepada DPD I Golkar NTB. Baginya, membesarkan Golkar KLU dapat dilakukan oleh siapapun figur yang dianggap tepat.

“Kalau saya diberi kepercayaan, sebagai kader, saya siap. Seandainya tidak pun, saya tetap loyal ke partai ini. Bersama Ketua DPD II nantinya, tentu dibutuhkan berkolaborasi untuk membesarkan Partai Golkar,” ujar Mariadi.

Faktor Domisili Berpengaruh

Menyikapi suara kader dan loyalis Golkar, Mariadi menguatkan pendapat, yang salah satunya datang dari Citra. Menurut dia, tiga anggota Fraksi Golkar saat ini, memiliki rekam jejak politik dengan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki secara individu. Namun demikian, untuk menjadi figur dengan magnet politik kuat memerlukan waktu panjang, setidaknya 20 tahun.

Mengacu pada psikologi politik di Lombok Utara, Mariadi melihat faktor domisili figur ikut mempengaruhi jalannya suksesi partai di masa depan. Dalam hal ini, sosok calon ketua dari pelosok cenderung akan kesulitan mengembangkan partai di semua kecamatan.

“Berbeda dengan figur dari kota, untuk mengembangkan partai ke pelosok, cenderung lebih cepat,” sambungnya.

Terlepas dari ketiga sosok Anggota Fraksi Golkar saat ini, Mariadi menekankan amanat DPP Golkar. Di mana, Musda di tiap daerah diarahkan untuk aklamasi. Selama calonnya masih lebih dari satu orang, maka Musda masih akan ditunda hingga terbentuk aklamasi.

Demikian dengan opsi figur antara kader dan non-kader, Mariadi lebih menyarankan agar Golkar KLU dipimpin oleh kader lantaran adanya jaminan loyalitas terhadap kondisi apapun yang dialami Partai. Jika Golkar diserahkan kepada non-kader, ia khawatir Golkar akan menjadi batu loncat untuk tujuan politik pribadi.

“Memang, akan terlihat bagus jika yang pimpin DPD II adalah anggota Fraksi. Secara wilayah, mereka memenuhi syarat. Ada ujung Timur, Tengah, dan ujung Barat, ketiganya penuhi syarat. Nyakradi dan Ikhwan berada di periode ke-3 sebagai DPRD dari Golkar. Sedangkan, Darmaji, meskipun baru 1 periode tetapi punya pengalaman panjang di bidang yang lain (Konsultan Teknik Sipil). Orang tuanya juga Politisi Golkar di masa lalu,” tandas Mariadi.

Untuk diketahui, Darmaji sebagai kandidat Ketua DPD II Golkar KLU, merupakan putra dari politisi senior, H. M. Hasyim (almarhum). Politisi asal Desa Gondang, kecamatan Gangga, tersebut diketahui dua periode menjadi Anggota Fraksi Golkar DPRD Lombok Barat (sebelum mekar KLU), dengan jabatan pertama di legislatif adalah tahun 1996. (ari)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO