Memasuki tahun 2025, saham teknologi besar seperti Microsoft (MSFT) dan Alphabet (GOOG/GOOGL) kembali menjadi pusat perhatian para investor global. Kedua raksasa teknologi ini menjadi pemain utama di sektor kecerdasan buatan dan cloud computing, tetapi juga menjadi barometer sentimen pasar.
Selain BTC USDT, sekarang ini kamu bisa membeli tokenisasi saham dari Microsoft atau Google di berbagai aplikasi crypto Indonesia seperti Pintu.
Sementara jika kamu sedang mencari exchange lokal yang bisa future, terdapat beberapa platform yang telah mendukung trading futures crypto di Indonesia yang menyediakan fitur leverage dan fitur charting yang lengkap serta cocok untuk trader profesional salah satunya Pintu Futures dan beberapa platform crypto lain.
Pintu Futures adalah fitur trading derivatif di aplikasi Pintu yang memungkinkan pengguna untuk memperdagangkan kontrak berjangka aset crypto dengan leverage hingga 25x. Dengan antarmuka yang simpel, dukungan leverage tinggi, stop order, limit order, serta biaya trading kompetitif, Pintu Futures cocok untuk trader pemula maupun profesional.
Lantas bagaimana analisa teknikal dari kedua perusahaan teknologi raksasa ini? Namun, jika dilihat dari sisi analisis teknikal, keduanya memiliki karakter pergerakan harga yang berbeda. Mulai dari tren jangka menengah, level support dan resistance, hingga indikator momentum seperti RSI dan MACD.
1. Analisis Teknikal Microsoft (MSFT)
Saham Microsoft masih menunjukkan kekuatan yang solid di awal 2025 dengan kecenderungan tren naik yang cukup stabil. Berdasarkan data dari ChartMill, MSFT memperlihatkan pergerakan harga yang berada di atas rata-rata 52 minggu terakhir, menandakan dominasi pembeli yang kuat.
Zona support penting berada di kisaran US$491 hingga US$507, sedangkan resistance utama berada di sekitar US$534. Jika harga mampu menembus level ini, potensi kenaikan ke area US$550–560 akan terbuka lebar.
Sinyal moving average juga memperlihatkan kombinasi menarik. Dilansir dari TipRanks, rata-rata pergerakan 50 hari (EMA 50) Microsoft berada di sekitar US$509,78, mendukung sinyal “Buy” untuk jangka menengah.
Namun, pada jangka pendek, beberapa indikator seperti MA 5 dan MA 10 menunjukkan sinyal “Sell”, yang menandakan potensi koreksi minor sebelum melanjutkan tren naik. Sementara indikator RSI berada di angka 46,8, yang berarti kondisi pasar masih netral tidak overbought maupun oversold.
Indeks ADX juga mencatat angka 19,6, yang menandakan kekuatan tren masih moderat. Kombinasi ini menunjukkan bahwa saham Microsoft berpotensi melanjutkan penguatan jika berhasil menjaga posisi di atas support utama.
Dari perspektif teknikal, strategi konservatif bisa dilakukan dengan menunggu konfirmasi pantulan di area support. Namun, jika harga berhasil menembus resistance di US$534 dengan volume tinggi, peluang untuk breakout akan semakin kuat.
2. Analisis Teknikal Google (Alphabet / GOOG)
Berbeda dengan Microsoft, saham Google menunjukkan momentum teknikal yang lebih agresif. Dilansir dari AltIndex, moving average 50 hari Google sudah menembus di atas MA 200 hari membentuk golden cross, sebuah sinyal kuat yang menandakan potensi tren bullish jangka menengah.
Harga saham Google juga diperdagangkan jauh di atas rata-rata 6 bulannya, memperlihatkan minat beli yang tinggi. Data dari CoinCodex, harga GOOG berpotensi menembus level US$255–258 pada kuartal terakhir 2025.
Namun, analis dari UltimaMarkets memperingatkan adanya kemungkinan koreksi menuju level support US$180–200, dengan titik terendah yang cukup kuat di sekitar US$144 apabila tekanan regulasi meningkat.
Secara indikator teknikal, Google saat ini berada di zona bullish dengan dukungan momentum dari indikator MACD yang masih positif. Tren jangka panjang juga menunjukkan sinyal kuat untuk “Buy” karena seluruh moving average (50, 100, dan 200 hari) masih berada di bawah harga terkini.
Dengan kondisi ini, saham Google memiliki peluang kenaikan yang lebih jelas dibandingkan Microsoft, meskipun investor perlu memperhatikan potensi tekanan dari isu antitrust atau perlambatan sektor iklan digital global.
Komparasi Analisis Teknikal Microsoft vs Google
Jika membandingkan dua saham ini dari sisi teknikal, perbedaan utama terlihat dari momentum tren dan kekuatan sinyal moving average. Microsoft menunjukkan karakter teknikal yang lebih stabil dan konsolidatif, sementara Google memperlihatkan kecenderungan momentum kenaikan yang lebih kuat.
Pada Microsoft, tren jangka menengah masih positif, namun beberapa indikator jangka pendek menunjukkan adanya potensi konsolidasi. RSI yang netral memperkuat dugaan bahwa pergerakan harga bisa bergerak sideways dalam waktu dekat sebelum melanjutkan tren naik.
Support utama Microsoft di sekitar US$491–507 menjadi area penting untuk menjaga tren tetap sehat. Sebaliknya, Google memiliki momentum teknikal yang lebih dominan. Golden cross antara MA 50 dan MA 200 menjadi tanda kuat bahwa tren naik sudah terbentuk dengan baik.
Resistance terdekat berada di area US$255–258, dan selama harga tetap berada di atas MA 100 hari, sinyal bullish akan tetap terjaga. Dari sisi indikator momentum, Google juga lebih unggul karena pergerakan MACD-nya menunjukkan konfirmasi sinyal beli yang jelas.
Sementara Microsoft masih memperlihatkan pergerakan campuran antara tekanan jual dan potensi rebound. Dengan demikian, jika investor mencari saham dengan potensi pertumbuhan harga jangka menengah yang lebih cepat, Google menjadi pilihan menarik.
Namun bagi investor dengan orientasi stabilitas dan volatilitas rendah, Microsoft tetap menjadi opsi ideal.
Dampak Pasar Digital terhadap Saham Teknologi
Pasar digital global, termasuk aset crypto kerap memengaruhi arah investasi pada saham teknologi besar. Ketika harga Bitcoin atau aset digital lainnya mengalami peningkatan signifikan, banyak investor beralih ke saham teknologi sebagai bentuk diversifikasi aset berisiko tinggi. Hubungan korelatif ini terlihat jelas sepanjang 2024, dan berpotensi berlanjut di 2025.
Selain itu, Platform memungkinkan investor lokal untuk memperdagangkan aset dengan leverage, meningkatkan arus modal di sektor keuangan digital. Ketika arus modal ini meningkat, efek domino-nya bisa terlihat pada kenaikan permintaan saham-saham teknologi besar seperti Microsoft dan Google.
Karena keduanya dianggap sebagai representasi perusahaan dengan infrastruktur AI dan cloud yang menopang ekosistem digital global.
Proyeksi Teknikal & Strategi Investasi
Melihat keseluruhan analisis teknikal sepanjang 2025, Google (GOOG) diperkirakan akan mempertahankan tren naik selama harga masih bergerak di atas MA 100 dan 200 hari. Potensi kenaikan menuju US$255–260 masih terbuka, dengan koreksi sehat di area US$200–210 sebagai peluang masuk bagi investor baru.
Sementara itu, Microsoft (MSFT) menunjukkan pola yang lebih berhati-hati. Selama harga tidak menembus support US$491, peluang untuk rebound ke US$534–540 masih cukup besar. Namun, jika tekanan jual meningkat dan RSI jatuh ke bawah 40, potensi penurunan ke area US$470–480 bisa terjadi.
Dari penjelasan disimpulkan saham Google (Alphabet) memiliki tren yang lebih agresif dengan momentum kenaikan yang kuat berkat golden cross dan dukungan dari indikator positif lainnya.
Sementara Microsoft cenderung stabil, dengan tren naik yang lebih konservatif dan risiko koreksi jangka pendek yang masih terbuka.
Kedua saham ini sama-sama mencerminkan kekuatan sektor teknologi global, terutama di tengah meningkatnya korelasi antara pasar saham dan ekosistem digital seperti crypto serta platform perdagangan berjangka.
Perlu diingat, semua aktivitas jual beli crypto memiliki resiko dan volatilitas yang tinggi karena sifat crypto dengan harga yang fluktuatif.
Maka dari itu, selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan gunakan dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat (uang dingin) sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab para trader dan investor. (r)


